Sunday, May 5, 2013

Pemuda yang Jatuh Melintas

Oleh : Arcadii Averchenko


Kejadian tragis dan menyedihkan ini bermula sebagai berikut. Tiga orang yang berbeda pendirian sedang terlibat pembicaraan di lantai enam bangunan apartemen yang besar.
            Seorang wanita dengan lengan sintalnya yang indah meraih seprei ke dadanya. Ia lupa bahwa seprei tidak berfungsi ganda. Ditutup lututnya yang indah pada saat bersamaan. Wanita itu menangis, dan di sela sedu-sedannya ia berkata:
“Oh John! Aku bersumpah padamu, aku tidak bersalah! Ia membuatku bingung dan ia menggodaku. Sungguh, semuanya di luar kemauanku. Aku menolaknya…”
Pria berjaket yang memakai topi menggerak-gerakkan tangannya dan mendamprat pria ketiga di ruangan itu.
“Bajingan! Akan kutunjukkan kepadamu bahwa kau akan mampus seperti bajingan dan hukum akan memihakku! Kau harus bertanggung jawab pada korban yang penyabar ini. Kau ular! Dasar kau penggoda!”
Pria ketiga di ruangan itu adalah seorang pemuda, yang walaupun saat itu berpakaian berantakan, tampak mebosankan, namun dengan harga diri yang tinggi.
“Saya? Kenapa, saya tidak melakukan apa-apa! Saya …” ia memprotes dan memandang sedih ke pojok ruang yang kosong.
“Kau tidak melakukannya? Kalau begitu, terima ini kau bajingan!”
Lelaki kekar bermantel itu membuka jendela dan berteriak ke arah jalan. Pemuda yang pakaiannya berantakan itu di tangannya, lalu dilemparkannya ke luar.
“Menyadari dirinya melayang di udara pemuda itu dengan malu mengancingkan rompi bajunya dan berbisik dalam hati untuk menghibur dirinya.
“Tidak apa-apa. Kegagalan akan membuat kita kuat.”
Dan ia pun tetap jatuh ke bawah.
Ia belum sampai ke lantai berikutnya (lantai lima) ketika napas panjang yang dalam memancar dari dadanya.
“Kenangan akan wanita yang telah ditinggalkannya meracuni dengan pahit seluruh kebahagiaan sensasi jatuhnya.
“Ya Tuhan!” pikir anak muda itu. “Aku cinta padanya. Ia tidak berani mengakui semuanya kepada suaminya! Tuhan melindunginya! Sekarang aku bisa merasakan bahwa ia jauh dan tidak penting untukku.”
Dengan pikiran terakhir ini ia sudah mencapai lantai lima, dan saat melintasi jendela ia mengintip ke dalam karena didorong rasa ingin tahunya.
Seorang pelajar duduk di meja belajar membaca buku di meja belajar. Kepalanya ditopang tangannya.
Sambil memperhatikannya, pemuda yang jatuh melintas teringat akan hidupnya. Teringat bahwa karena itu ia melewati hari-harinya di dalam godaan duniawi, lupa untuk belajar dan membaca buku. Ia merasa ditarik ke dalam cahaya pengetahuan, ke penemuan-penemuan misteri alam dengan pikiran yang analitis, ditarik ke pemujaan di depan maestro-maestro kata-kata.
“Pelajar yang tercinta,” ingin ia menangis pada pria yang sedang membaca itu, “Kau membangunkan seluruh hasrat di dalam diriku yang tertidur dan menyembuhkan nafsu-nafsuku yang kosong dari kesia-sian hidup, yang membawaku pada realitas menyedihkan di lantai enam.
Tetapi karena tidak ingin mengacaukan pelajar itu dari belajarnya, pemuda tersebut menahan diri untuk tidak berteriak. Jatuh ke lantai empat, pikirannya berubah.
Jantungnya mengekerut dengan rasa sakit manis yang aneh. Sementara itu kepalanya menjadi pusing karena kebahagiaan dan kepasrahaan.
Seorang wanita muda duduk di jendela lantai empat dan, dengan mesin jahit di depannya, sedang mengerjakan sesuatu.
Tapi tangan putihnya yang indah lupa bekerja untuk sesaat. Matanya yang biru seperti bunga di ladang gandum yang memandang ke kejauhan. Sedang murung dan berkhayal.
Pemuda itu tidak bisa mengalihkan penglihatannya dari pemandangan ini. Beberapa perasaan baru yang kuat dan bergelora menyebar dan tumbuh di dalam hatinya.
Ia menyadari, bahwa semua pertemuan sebelumnya dengan wanita-wanita tidak lebih dari sekedar nafsu-nafsu kosong. Bahwa hanya sekarang inilah ia memahami kata-kata misterius yang aneh – Cinta.
Ia tertarik pada kehidupan rumah tangga yang tenang; kasih sayang dicintai di luar kata-kata; kehidupan yang menyenangkan , bahagia dan damai.
Kisah berikutnya, lewat sudah di mana ia baru saja melayang, menyadarkannya lebih dalam lagi terhadap keinginannya. Di jendela lantai tiga ia melihat seorang ibu sedang bersenandung pelan nina bobo dan tertawa. Bayi montok di dalam ayunannya tersenyum. Cinta dan sejenis kebanggaan seorang ibu berkilau di matanya.
“Aku juga ingin menikahi gadis di lantai empat, dan punya anak-anak yang montok berpipi merah seperti orang di lantai tiga,” renung pemuda itu. “Akan kupersembahkan seluruh diriku demi keluargaku dan menemukan kebahagiaanku di dalam pengorbanan.”
Tetapi sekarang lantai dua sudah mendekat. Pemandangan dari jendela lantai ini yang terlihat oleh si pemuda itu membuat hatinya tegang kembali.
Seorang pria dengan rambut kusut dan pandangan tidak menentu duduk di meja tulis yang megah. Ia memandangi bingkai foto di depannya. Pada saat bersamaan ia menulis dengan tangan kanannya dan tangan kirinya memegang revolver yang menempel di pelipisnya.
“Hentikan, orang gila,” pemuda itu ingin berteriak. “Hidup ini indah!” Tetapi insting perasaannya mencegahnya.
Perabotan mewah, kekayaan dan kenyamanannya membuat pemuda itu sadar, ada sesuatu yang lain dalam hidup yang bisa menghancurkan semua kenyamanan dan kepuasan ini, serta seluruh keluarga. Sesuatu kekuatan paling kuat, dahsyat….
“Bagaimana mungkin?” ia bertanya-tanya dengan berat hati. Dan seakan-akan disengaja, hidup memberinya jawaban nyaring yang sembrono di jendela lantai satu yang sekarang ia lintasi.
Nyaris tertutup oleh tirai, seorang pemuda duduk di jendela. Tidak bermantel dan tidak berbaju. Seorang wanita setengah telanjang duduk di lututnya. Menguncir lembut rambut kekasihnya dengan kedua tangannya yang merah dan memeluk dadanya dengan bergairah…
Pemuda yang jatuh melintas teringat, bahwa ia pernah melihat wanita ini (berpakaian anggun) di suatu tempat sedang berjalan dengan suaminya. Tapi pria ini tentu saja bukan suaminya. Suaminya lebih tua . Berambut hitam ikal keperakan. Sementara pria ini mempunyai rambut lurus yang indah.
Pemuda itu teringat rencananya semula. Belajar, setelah melihat seorang pelajar, menikahi gadis di lantai empat, kehidupan damai keluarga ala lantai tiga. Sekali lagi jantungnya tertekan berat.
Ia amati seluruh peristiwa yang dilaluinya. Semua kebahagiaan tidak menentu yang telah ia bayangkan. Kemudian terlihat kembali semua prosesi muda-mudi berambut indah, dan juga tentang istri dan dirinya sendiri. Terngiang kenangan siksaan pria di lantai dua dan ukuran-ukuran norma yang diambil lelaki itu untuk membebaskan dirinya dari siksaan-siksaan ini. Lalu ia pun mengerti.
“Akhirnya aku telah menyaksikan bahwa hidup itu tidak berharga! Hidup itu bodoh dan menyiksa,” pikir pemuda itu dengan senyum mencibir dan mencerca. Dengan alisnya yang mengkerut, akhirnya ia selesaikan jatuhnya ke permukaan jalan.
Jantungnya tidak lagi berdetak saat menyentuh batu jalan dengan kedua tangannya. Anggota tubuhnya yang tidak berguna sekarang hancur. Otaknya luluh pada kerasnya batu jalan.
Orang-orang yang ingin tahu berkumpul di sekitar tubuhnya yang kaku. Sebuah drama kompleks yang dialami pemuda itu beberapa saat sebelumnya tidak pernah terjadi pada mereka.


Kompas, Minggu, 10 Mei 1998

Judul asli : The Young Man Who Flew Past. Alih bahasa: Riva Julianto dari The Realm of Fiction, 74 Short Stories, edisi ke-3. Arcadii Timotheich Averchenko (1881-1925) menulis cerita pendek, drama dan lakon pendek humor, penyumbang utama jurnal sastra Satyricon yang terbit di ST. Petersburg dan tokoh penting di antara penulis-penulis Rusia saat itu. Averchenko meninggalkan Rusia saat terjadi Revolusi 1917 dan meninggal di Konstantinopel, Turki.

No comments:

Post a Comment