Kejadian tragis dan menyedihkan ini bermula sebagai
berikut. Tiga orang yang berbeda pendirian sedang terlibat pembicaraan di
lantai enam bangunan apartemen yang besar.
Seorang
wanita dengan lengan sintalnya yang indah meraih seprei ke dadanya. Ia lupa
bahwa seprei tidak berfungsi ganda. Ditutup lututnya yang indah pada saat
bersamaan. Wanita itu menangis, dan di sela sedu-sedannya ia berkata:
“Oh John! Aku bersumpah padamu, aku tidak bersalah!
Ia membuatku bingung dan ia menggodaku. Sungguh, semuanya di luar kemauanku.
Aku menolaknya…”
Pria berjaket yang memakai topi menggerak-gerakkan
tangannya dan mendamprat pria ketiga di ruangan itu.
“Bajingan! Akan kutunjukkan kepadamu bahwa kau akan
mampus seperti bajingan dan hukum akan memihakku! Kau harus bertanggung jawab
pada korban yang penyabar ini. Kau ular! Dasar kau penggoda!”
Pria ketiga di ruangan itu adalah seorang pemuda,
yang walaupun saat itu berpakaian berantakan, tampak mebosankan, namun dengan
harga diri yang tinggi.
“Saya? Kenapa, saya tidak melakukan apa-apa! Saya …”
ia memprotes dan memandang sedih ke pojok ruang yang kosong.
“Kau tidak melakukannya? Kalau begitu, terima ini
kau bajingan!”
Lelaki kekar bermantel itu membuka jendela dan berteriak
ke arah jalan. Pemuda yang pakaiannya berantakan itu di tangannya, lalu
dilemparkannya ke luar.
“Menyadari dirinya melayang di udara pemuda itu
dengan malu mengancingkan rompi bajunya dan berbisik dalam hati untuk menghibur
dirinya.
“Tidak apa-apa. Kegagalan akan membuat kita kuat.”
Dan ia pun tetap jatuh ke bawah.
Ia belum sampai ke lantai berikutnya (lantai lima)
ketika napas panjang yang dalam memancar dari dadanya.
“Kenangan akan wanita yang telah ditinggalkannya
meracuni dengan pahit seluruh kebahagiaan sensasi jatuhnya.
“Ya Tuhan!” pikir anak muda itu. “Aku cinta padanya.
Ia tidak berani mengakui semuanya kepada suaminya! Tuhan melindunginya!
Sekarang aku bisa merasakan bahwa ia jauh dan tidak penting untukku.”
Dengan pikiran terakhir ini ia sudah mencapai lantai
lima, dan saat melintasi jendela ia mengintip ke dalam karena didorong rasa ingin
tahunya.
Seorang pelajar duduk di meja belajar membaca buku
di meja belajar. Kepalanya ditopang tangannya.
Sambil memperhatikannya, pemuda yang jatuh melintas
teringat akan hidupnya. Teringat bahwa karena itu ia melewati hari-harinya di dalam
godaan duniawi, lupa untuk belajar dan membaca buku. Ia merasa ditarik ke dalam
cahaya pengetahuan, ke penemuan-penemuan misteri alam dengan pikiran yang analitis,
ditarik ke pemujaan di depan maestro-maestro kata-kata.
“Pelajar yang tercinta,” ingin ia menangis pada pria
yang sedang membaca itu, “Kau membangunkan seluruh hasrat di dalam diriku yang
tertidur dan menyembuhkan nafsu-nafsuku yang kosong dari kesia-sian hidup, yang
membawaku pada realitas menyedihkan di lantai enam.
Tetapi karena tidak ingin mengacaukan pelajar itu
dari belajarnya, pemuda tersebut menahan diri untuk tidak berteriak. Jatuh ke
lantai empat, pikirannya berubah.
Jantungnya mengekerut dengan rasa sakit manis yang
aneh. Sementara itu kepalanya menjadi pusing karena kebahagiaan dan
kepasrahaan.
Seorang wanita muda duduk di jendela lantai empat
dan, dengan mesin jahit di depannya, sedang mengerjakan sesuatu.
Tapi tangan putihnya yang indah lupa bekerja untuk
sesaat. Matanya yang biru seperti bunga di ladang gandum yang memandang ke
kejauhan. Sedang murung dan berkhayal.
Pemuda itu tidak bisa mengalihkan penglihatannya
dari pemandangan ini. Beberapa perasaan baru yang kuat dan bergelora menyebar
dan tumbuh di dalam hatinya.
Ia menyadari, bahwa semua pertemuan sebelumnya
dengan wanita-wanita tidak lebih dari sekedar nafsu-nafsu kosong. Bahwa hanya
sekarang inilah ia memahami kata-kata misterius yang aneh – Cinta.
Ia tertarik pada kehidupan rumah tangga yang tenang;
kasih sayang dicintai di luar kata-kata; kehidupan yang menyenangkan , bahagia
dan damai.
Kisah berikutnya, lewat sudah di mana ia baru saja
melayang, menyadarkannya lebih dalam lagi terhadap keinginannya. Di jendela
lantai tiga ia melihat seorang ibu sedang bersenandung pelan nina bobo dan
tertawa. Bayi montok di dalam ayunannya tersenyum. Cinta dan sejenis kebanggaan
seorang ibu berkilau di matanya.
“Aku juga ingin menikahi gadis di lantai empat, dan
punya anak-anak yang montok berpipi merah seperti orang di lantai tiga,” renung
pemuda itu. “Akan kupersembahkan seluruh diriku demi keluargaku dan menemukan
kebahagiaanku di dalam pengorbanan.”
Tetapi sekarang lantai dua sudah mendekat.
Pemandangan dari jendela lantai ini yang terlihat oleh si pemuda itu membuat
hatinya tegang kembali.
Seorang pria dengan rambut kusut dan pandangan tidak
menentu duduk di meja tulis yang megah. Ia memandangi bingkai foto di depannya.
Pada saat bersamaan ia menulis dengan tangan kanannya dan tangan kirinya memegang
revolver yang menempel di pelipisnya.
“Hentikan, orang gila,” pemuda itu ingin berteriak.
“Hidup ini indah!” Tetapi insting perasaannya mencegahnya.
Perabotan mewah, kekayaan dan kenyamanannya membuat
pemuda itu sadar, ada sesuatu yang lain dalam hidup yang bisa menghancurkan
semua kenyamanan dan kepuasan ini, serta seluruh keluarga. Sesuatu kekuatan
paling kuat, dahsyat….
“Bagaimana mungkin?” ia bertanya-tanya dengan berat
hati. Dan seakan-akan disengaja, hidup memberinya jawaban nyaring yang sembrono
di jendela lantai satu yang sekarang ia lintasi.
Nyaris tertutup oleh tirai, seorang pemuda duduk di
jendela. Tidak bermantel dan tidak berbaju. Seorang wanita setengah telanjang
duduk di lututnya. Menguncir lembut rambut kekasihnya dengan kedua tangannya
yang merah dan memeluk dadanya dengan bergairah…
Pemuda yang jatuh melintas teringat, bahwa ia pernah
melihat wanita ini (berpakaian anggun) di suatu tempat sedang berjalan dengan
suaminya. Tapi pria ini tentu saja bukan suaminya. Suaminya lebih tua .
Berambut hitam ikal keperakan. Sementara pria ini mempunyai rambut lurus yang
indah.
Pemuda itu teringat rencananya semula. Belajar,
setelah melihat seorang pelajar, menikahi gadis di lantai empat, kehidupan
damai keluarga ala lantai tiga. Sekali lagi jantungnya tertekan berat.
Ia amati seluruh peristiwa yang dilaluinya. Semua
kebahagiaan tidak menentu yang telah ia bayangkan. Kemudian terlihat kembali
semua prosesi muda-mudi berambut indah, dan juga tentang istri dan dirinya
sendiri. Terngiang kenangan siksaan pria di lantai dua dan ukuran-ukuran norma
yang diambil lelaki itu untuk membebaskan dirinya dari siksaan-siksaan ini.
Lalu ia pun mengerti.
“Akhirnya aku telah menyaksikan bahwa hidup itu
tidak berharga! Hidup itu bodoh dan menyiksa,” pikir pemuda itu dengan senyum
mencibir dan mencerca. Dengan alisnya yang mengkerut, akhirnya ia selesaikan
jatuhnya ke permukaan jalan.
Jantungnya tidak lagi berdetak saat menyentuh batu
jalan dengan kedua tangannya. Anggota tubuhnya yang tidak berguna sekarang
hancur. Otaknya luluh pada kerasnya batu jalan.
Orang-orang yang ingin tahu berkumpul di sekitar
tubuhnya yang kaku. Sebuah drama kompleks yang dialami pemuda itu beberapa saat
sebelumnya tidak pernah terjadi pada mereka.
Kompas, Minggu,
10 Mei 1998
Judul asli : The Young Man Who Flew Past. Alih
bahasa: Riva Julianto dari The Realm of
Fiction, 74 Short Stories, edisi ke-3. Arcadii Timotheich Averchenko
(1881-1925) menulis cerita pendek, drama dan lakon pendek humor, penyumbang
utama jurnal sastra Satyricon yang terbit di ST. Petersburg dan tokoh penting
di antara penulis-penulis Rusia saat itu. Averchenko meninggalkan Rusia saat
terjadi Revolusi 1917 dan meninggal di Konstantinopel, Turki.
No comments:
Post a Comment