Saat mengamati burung camar di dermaga, wajah
sedihku mencuri perhatian seorang polisi. Aku terpesona oleh camar yang
melayang, membidik dan menukik ke dalam air mencari makan. Dermaga begitu
sepi. Air laut hijau pekat karena minyak dan sampah-sampah mengambang di
permukaannya. Tak satupun kapal berlabuh. Derek-derek berkarat, gudang-gudang
tinggal kerangkanya, bahkan tikus pun enggan hidup di antara puing
hitamnya. Suasana sangat sunyi. Bertahun-tahun lamanya hubunganku dengan dunia
luar terputus.
Kuperhatikan seekor camar yang sedang melayang,
berayun-ayun di atas air. Kelihatannya gugup seperti melihat badai. Sesekali ia
bersuara seraya menyatukan diri dengan burung lainnya. Seandainya mungkin, aku
ingin memberinya remah roti dan menghapuskan bintik putih di sayapnya yang
tidak berguna dan melatih mereka. Burung-burung itu kuberi umpan roti dan akan
kujerat dengan gulungan benang. Tetapi seperti juga mereka, aku pun lapar.
Meskipun lelah dan sedih, aku bergembira karena tempat ini menyenangkan sekali.
Dengan tangan di dalam kantong, kupandang camar sambil merayakan kesedihan.
Sekonyong-konyong tangan seorang petugas memegang
pundakku dan berujar,"Ikut!" Segera tangannya menarik bahuku. Aku
tidak bergeming dan melawannya sambil berujar pelan, "Sinting."
"Jangan melawan, kamerad," ujarnya dari
balik punggungku.
"Tuan Yang Terhormat," aku menjawab.
"Tidak ada kata Tuan. Kita semua kamerad!"
bentaknya. Sekarang ia di sampingku, menatapku tajam. Terpaksa kutarik lagi
wajah gembiraku dan menatap kedua matanya. Ia sangat serius bak kerbau
kelaparan dan setia pada tugas puluhan tahun lamanya.
"Atas dasar apa ...," aku berusaha bicara.
"Bukti-buktinya sudah cukup," ujarnya.
"Wajah sedihmu."
Aku tertawa.
"Jangan tertawa!" Ia sungguh-sungguh
marah. Kukira ia sedang galau karena tidak ada pelacur, tidak ada pelaut yang
berkelahi, tidak ada pencuri atau residivis yang bisa ditangkap. Tetapi
kulihat ia serius ingin menangkapku.
"Ikut ...!"
"Ada apa?" tanyaku pelan.
Dalam keadaan bingung tanganku diborgol dan aku
sadar diriku ditangkap kembali. Di saat-saat terakhir, aku berpaling kecamar
yang sedang melayang dan langit kelabu yang indah. Aku ingin melompat ke laut
saja dan tenggelam di air kotor dari pada harus dipenjara dan diinjak-injak
antek-antek sipir atau diisolasi. Namun dengan hentakkan kuat polisi itu
menarikku sehingga tidak mungkin aku melarikan diri.
"Kenapa aku ditangkap?" tanyaku lagi.
"Ada peraturan yang mewajibkan setiap orang
wajib untuk bergembira."
"Saya bergembira," jawabku memelas.
"Wajah sedihmu ..." ia gerakkan kepalanya.
"Tetapi peraturan itu baru berlaku,"
jawabku.
"Sudah tigapuluh enam jam. Kamu tahu bahwa
semua peraturan berlaku efektif duapuluh empat jam setelah diundangkan."
"Tetapi aku tidak tahu."
“Itu bukan alasan karena telah diumumkan dua
hari yang lalu lewat pengeras suara, koran dan selebaran bagi yang tidak punya
radio atau tidak membaca koran. Selebaran disebar di semua tempat. Kita
lihat saja nanti di mana Anda tigapuluh enam jam terakhir ini, kawan," ia
memandangku sinis.
Ia menarikku. Sekarang aku baru merasakan udara
dingin dan tidak punya jaket. Aku lapar dan perutku berbunyi. Kusadari badanku
bau, berjanggut, compang-camping. Ada peraturan yang mengharuskan setiap orang
berpenampilan bersih, rapi, gembira dan cukup makan. Ia menarikku ke depannya
seperti orang-orangan sawah yang dituduh mencuri dan harus menanggalkan
mimpinya. Jalanan sepi. Jalan menuju kota tidak jauh. Aku tahu mereka akan
mencari-cari alasan untuk menangkapku lagi. Jantungku berdebar keras ketika
melewati tempat masa kecilku dulu, yang ingin kudatangi setelah melihat
dermaga. Kebun-kebun dipenuhi tanaman liar yang terlihat indah karena tidak
terawat. Banyak jalan baru. Semua taman tertata rapi dan dipersembahkan bagi
patriot pejuang yang harus latihan di sini setiap hari Senin, Rabu dan Sabtu.
Hanya langit dan angin yang tidak berubah, sama seperti hari-hari ketika hatiku
dipenuhi mimpi.
Ketika berjalan, kulihat banyak tangsi cinta
memasang lambang negara untuk mereka yang ingin berpartisipasi pada pesta hari
Rabu. Semua bar harus memasang gambar gelas bir yang bergaris warna patriotik
daerah: coklat muda, coklat tua, coklat muda. Tidak salah lagi, kegembiraan
yang diperintahkan telah merasuk ke hati mereka dan juga ke dalam daftar
peminum hari Rabu nanti sehingga boleh ikut pesta bir tersebut.
Terlihat ada semangat pada orang-orang yang bertemu
dengan kami. Aura industri menyelimuti mereka. Terlebih lagi ketika mereka
melihat polisi. Jalan mereka menjadi lebih cepat. Ada wajah-wajah yang
dipaksakan. Wanita-wanita yang keluar dari toko berusaha memperlihatkan wajah
gembira. Mereka diperintahkan bahagia dan bergembira sebagai ibu rumah tangga
dan harus menyegarkan pekerja negara dengan makanan yang enak di malam hari.
Namun semua orang ini sangat cekatan menghindari
kami sehingga tak seorang pun yang memotong jalan kami. Kalau ada orang, dalam
jarak duapuluh langkah dari kami mereka sudah hilang. Mereka bergegas masuk ke
dalam toko atau membelok ke pojokan. Banyak yang masuk ke rumah orang lain dan
gelisah menunggu di balik pintu sampai kami menghilang.
Ketika menyeberang jalan, seorang tua berpapasan
dengan kami. Dari tanda pengenalnya kutahu ia seorang guru. Terlambat baginya
untuk menghindar. Sekarang ia harus memenuhi kewajibannya. Pertama-tama menyapa
polisi sesuai peraturan (yaitu, menampar wajahnya sendiri tiga kali sebagai
tanda penghinaan serius), dan kemudian meludahi wajahku tiga kali sambil
memaki: "Anjing pengkhianat." Ia melakukannya dengan baik. Namun hari
terasa panas. Kerongkongannya kering karena hanya sedikit ludah yang
mengenaiku. Dengan refleks dan melawan peraturan, kuhapus ludah dengan lengan
baju. Polisi itu menendangku dari belakang dan menghajar tulang punggungku
dengan tinjunya seraya berkata: "Tingkat Satu." Ini artinya hukuman
ringan pertama yang boleh diambil seorang polisi.
Guru itu segera menyingkir. Sebaliknya, orang-orang
yang lain sukses menghindari kami. Hanya seorang wanita yang pucat dan sedikit
pirang dengan wajah terpaksa di samping tangsi cinta sebelum pesta malam tiba.
Dengan tergesa-gesa ia menciumku dan aku pun tersenyum senang, sementara polisi
itu bersikap seolah-olah tidak melihat apa-apa. Polisi wajib membiarkan kaum
wanita bebas melepas kawannya yang dihukum berat. Karena dianggap memperbaiki
moral kerja, maka mereka berada di luar hukum. Pengecualian ini dibenarkan
filsuf negara Dr. Dr. Dr. Bleigoth di dalam Jurnal Filsafat resmi milik
pemerintah yang merupakan tanda dimulainya liberalisasi. Aku membacanya
kemarin di majalah yang kutemukan di sebuah gudang pertanian dalam perjalanan
ke ibu kota. Seorang siswa - mungkin anak si petani - memberi catatan-catatan
kritis.
Beruntung kami sudah dekat kantor polisi ketika
sirene berbunyi. Jalan-jalan akan dipenuhi ribuan orang yang harus menunjukan
wajah setengah riang ("dianjurkan" untuk tidak menunjukan kegembiraan
luar biasa setelah usai bekerja karena bekerja adalah beban. Tetapi kebahagiaan
harus dimulai sebelum bekerja dengan lagu-lagu pujian). Ribuan orang ini harus
meludahiku. Sirene ini sebenarnya ini sepuluh menit tanda sebelum ditutup,
karena setiap orang harus mandi bersih selama sepuluh menit sesuai slogan
kepala negara: Kebahagiaan dan Sabun Mandi.
Di pintu masuk markas polisi, sebuah bangunan gersang
yang kokoh, dua penjaga menghadiahkanku "tindakan fisik". Dengan
bayonet, mereka pukul pelipisku dengan keras dan mendaratkan popor senjatanya
ke tulang selangka sesuai Pembukaan Undang-undang Nomor 1: "Semua polisi,
kecuali petugas yang menangkap, harus memperlihatkan dirinya sebagai penguasa
di depan tersangka (maksudnya tertangkap). Petugas penangkap boleh melakukan
semua tindakan fisik yang diperlukan selama interogasi." Undang-undang
Nomor 1 itu sendiri menyebutkan: "Semua polisi boleh menghukum seseorang.
Ia harus menghukum setiap orang yang terbukti bersalah melakukan pelanggaran.
Tidak ada yang kebal hukum, kecuali dibebaskan dari hukuman."
Sekarang kami melewati koridor panjang yang kosong
dengan jendelanya yang besar. Sebuah pintu terbuka otomatis. Petugas yang
berjaga segera mengumumkan kedatangan kami. Hari ini semua orang senang, ramah
dan berpenampilan rapi, terlihat daricara menghabiskan sabun setiap hari sesuai
anjuran. Karena itu datangnya seorang tersangka (tertangkap) adalah peristiwa
besar.
Kami masuk ke ruangan yang nyaris kosong. Cuma ada
meja dengan telepon dan dua kursi. Aku ditempatkan di tengah-tengah ruangan.
Polisi itu melepaskan helmetnya dan duduk.
Awalnya sunyi dan tidak terjadi apa-apa. Beginilah
cara mereka dan ini bagian yang paling tidak menyenangkan. Kurasakan keringat
mengalir di wajahku. Aku merasa lapar dan lelah. Bahkan jejak kebahagiaan
terakhirku sudah hilang karena aku tahu aku kalah.
Setelah beberapa saat, seorang lelaki pucat, kurus
dan berseragam coklat penyidik masuk. Ia duduk tanpa mengucapkan sesuatu apapun
dan menatapku:
"Jabatan."
"Orang biasa."
"Lahir?"
"1.1 satu," jawabku.
"Pekerjaan terakhir?"
"Terpidana."
Kedua polisi itu saling berpandangan.
"Kapan dan di mana dibebaskan?"
"Kemarin, Rutan 12, Sel 13."
"Dibebaskan di mana?"
"Di ibu kota."
"Surat-surat?"
Kuambil surat-surat pembebasanku dari dalam kantong
dan menyerahkannya.
Surat-surat itu disatukan dengan kartu hijau yang di
atasnya ia mencatat pernyataanku.
"Dakwaan?"
"Wajah bahagia."
Kedua polisi itu saling berpandangan lagi.
"Jelaskan!" perintah penyidik.
"Waktu itu wajah bahagiaku menarik perhatian
polisi. Hari itu dinyatakan sebagai hari berkabung nasional untuk memperingati
kematian kepala negara," ujarku.
"Lama hukuman?"
"Lima."
"Kelakuan?"
"Jelek."
"Alasannya?"
"Kurang inisiatif."
"Cukup."
Lalu si penyidik berdiri dan berjalan ke
arahku. Tinjunya tepat mengenai tiga gigi depanku. Inilah tandanya aku
dicap sebagai pemberontak, cap yang tidak pernah terbayangkan olehku. Kemudian
petugas penyidik itu meninggalkan ruangan. Temannya yang besar dan berseragam
coklat masuk: petugas interogator.
Mereka semua menghajarku. Petugas interogator,
interogator senior, interogator kepala, hakim tingkat pertama dan hakim tingkat
banding serta polisi melakukan kekerasan fisik seperti yang diamanatkan
undang-undang. Aku divonis sepuluh tahun penjara karena wajah sedihku, sama
seperti lima tahun lalu saat aku divonis karena wajah bahagiaku.
Aku akan berusaha tidak punya wajah lagi. Kalau
berhasil, kulewatkan sepuluh tahun nanti dengan kebahagiaan dan sabun mandi.
Koran Tempo, 12 Mei 2013
Judul asli: "My Melancholy Face".
Dialihbahasakan oleh Riva Julianto
dari dari buku The Realm of Fiction 74
Short Stories, edisi ketiga, James B. Hall dan Elizabeth C. Hall
(penyunting). New York: Mcgraw-Hill Book Company, 1977, hal: 289-294.