Tuesday, March 12, 2013

Menghadang Matahari

Oleh: Riva Julianto



Matahari adalah raja penguasa rimba galaksi. Ia berkuasa karena mempunyai bala tentara yang tak terhitung jumlahnya. Semua dilengkapi senjata cahaya dengan kekuatan jutaan watt sehingga apabila seseorang terkena cahayanya niscaya ia akan menjadi buta dan bahkan bisa membuat hilang sebuah benda tanpa meninggalkan bekas. Setiap orang tidak boleh melihatnya bila tidak ingin menjadi buta.
Jadi, setiap orang yang ingin bertemu dengannya harus menundukkan kepala. Bahkan bila ia hadir dalam upacara di tempat umum. Semua orang yang hadir harus menundukkan kepalanya. Hanya segelintir orang saja yang bisa melihatnya, yakni para penasehatnya. Itupun mereka harus memakai kacamata hitam agar tidak menjadi buta. Kacamata hitam adalah barang terlarang di seluruh wilayah hukum kerajaannya. Bila setiap orang diperbolehkan memakai kacamata hitam dan melihatnya, dikhawatirkan ia akan kehilangan wibawa di hadapan rakyatnya.
Tahtanya terletak di gugusan bima sakti, sebuah wilayah yang subur dan makmur. Jarang ada pemberontakan dan tindakan kriminal. Keadilan berjalan sempurna di negeri ini. Kalau pun ada tindakan kriminal, itu hanya ulah segelintir orang imigran yang belum bisa beradaptasi. Mereka belum terbiasa dengan suasana yang demikian dan tidak tahu harus bagaimana menghabiskan waktu senggangnya. Tidak pernah ada orang menjadi stres karena memikirkan pekerjaan atau penghasilannya. Pegawai rendah sekali pun hidupnya tidak pernah kekurangan.
Tersebutlah sebuah kerajaan lubang hitam, atau orang Inggris menyebutnya black hole kingdom, yang diperintah oleh seorang raja hitam berbadan tinggi dan besar. Gigi dan matanya pun berwarna hitam sehingga tak seorang pun bisa melihatnya. Hanya desahan nafasnya saja yang bisa dirasakan. Ia seorang raja yang sangat berkuasa, otoriter dan totaliter. Meskipun demikian ia tidak pernah melarang rakyatnya untuk melakukan apa saja. Hanya satu hal yang ia larang untuk rakyatnya, yaitu merebut kekuasaannya. Kekuasaan dijadikan undang-undang abadi yang berisi bahwa kekuasaan harus tetap di tangannya. Selain kekuasaan ia membebaskan rakyatnya untuk berbuat apa saja. Semua kendali pemerintahan ada di tangannya.
“Negara adalah saya,” ujarnya suatu ketika. Itu sebabnya mengapa ia tidak mempunyai menteri-menteri dan bala tentara. Semua kekuatan senjata dan hukum dipegangnya sendiri. Tak jikalau kerajaan ini tidak mempunyai angkatan bersenjata. Angkatan bersenjata baginya hanya akan menimbulkan benih pemberontakan karena mereka bersenjata dan bisa saja berbalik melawannya suatu ketika. Dengan tidak adanya angkatan bersenjata, otomatis ia memegang kekuasaan dan kekuatan mutlak. Nyaris mendekati maha kuasa dan maha kuat.
Kehidupan rakyatnya memang kacau-balau. Tindakan kriminal adalah realitas kehidupan sehari-hari yang biasa terjadi. Meskipun demikian, tidak pernah ada seorang pun yang mati atau mengeluh dengan kondisi seperti ini. Semua orang menyukai dan menikmatinya. Mereka tidak pernah khawatir akan mati dan hilang dari kehidupan. Sebagai warga negara, mereka dijamin oleh raja untuk menjadi abdi. Nyawa bisa direproduksi dan diperjual-belikan seenaknya di pasar-pasar. Jika satu nyawa hilang bisa lekas diganti dengan baru. Nyawa sudah menjadi kebutuhan pokok sehari-hari. Sang raja bahkan memberikan subsidi untuk komoditi yang satu ini.
Tidak mengherankan apabila ia tidak mempunyai angkatan bersenjata. Jika ingin merebut wilayah kekuasaan raja lainnya, ia tinggal mengeluarkan titah bagi rakyatnya untuk melaksanakannya. Mereka yang menolak akan dikenakan sanksi pencabutan status warga negaranya. Dengan kata lain dihukum mati karena subsidi nyawanya dicabut.
Suatu ketika hampir seluruh wilayah kerajaan di jagat raya telah dikuasainya. Hanya sebuah kerajaan yang sulit baginya untuk ditembus dan ditaklukkan, yakni kerajaan matahari. Untuk itu ia memobilisasi seluruh rakyatnya untuk berperang dan merebut wilayah kerajaan yang subur dan makmur itu. Sang raja lubang hitam begitu antusias dan ingin sekali merebutnya. Menurut dongeng yang didengarnya, inilah wilayah yang sangat produktif dan menghasilkan makanan dan bahkan juga perhiasan yang melimpah. Inilah satu-satunya kerajaan yang menjadi keadilan sebagai panutan. Memuja-muja dan mengagungkan demokrasi menjadi hal yang sangat ditentang oleh kerajaan lubang hitam.
Rakyat kerajaan lubang hitam tidak dilengkapi senjata memadai. Hanya tinta hitam yang mereka andalkan. Setitik noda hitam akan menyerap sekian ribu watt cahaya. Oleh karena itu dapat dibayangkan berapa banyak tinta yang harus mereka keluarkan untuk menaklukkan kerajaan matahari.
Syahdan, pertempuran hebat terjadi siang dan malam. Di siang hari tentara kerajaan matahari menguasai pertempuran. Tetapi di malam hari ribuan tentara matahari mengalami kematian. Sementara itu tak seorang pun dari rakyat kerajaan lubang hitam yang sedang bertempur menerima kematian. Selain tinta hitam, nyawa cadangan tidak pernah lepas dari genggaman.
Ada hal menarik di medan pertempuran. Tumbukkan tinta hitam dan cahaya jutaan watt menimbulkan pendar cahaya pelangi berwarna-warni. Semua orang yang sedang berperang menjadi tercengang bercampur rasa takjub akan keindahannya. Pemandangan ini bukan menghentikan peperangan, melainkan malah membuat mereka menjadi bersemangat untuk saling membunuh. Ternyata perang menghasilkan keindahan pemandangan. Melebihi karya seni pelukis sekaliber Leonardo da Vinci. Medan pertempuran menjadi berwarna-warni.
Hari berubah bulan. Bulan berubah tahun. Tahun berubah dekade. Dekade berubah abad. Abad berubah menjadi jubelium. Jubelium berubah menjadi milenium. Milenium kehilangan nama untuk menggantikannya. Pertempuran tidak pernah berhenti barang sesaat. Meskipun belum juga menguasai kerajaan matahari, raja lubang hitam masih dapat tersenyum senang. Seorang mata-mata membawa kabar untuknya. Dalam hitungan milyar tahun tentara kerajaan matahari akan kehabisan energi. Itulah saatnya mereka akan meraih kemenangan.
“Tidak mengapa,” ujarnya. “Milyaran tahun tidak seberapa apabila dibandingkan dengan reproduksi nyawa yang tidak mengenal kata bilangan.”
Merasa dirinya di atas angin, raja lubang hitam segera mengirim pesan melalui radiogram kepada raja matahari yang isinya berbunyi: “Jangan kau habisi energimu sia-sia. Bila kau mati, tak kubiarkan kau seorang sendiri.”

Cintailah Kakimu Sendiri

Oleh: Riva Julianto



Di kamp konsentrasi di Ausschwitz, Buchenwald dan di tempat lainnya, orang-orang Yahudi tidak berkaki. Kaki mereka diamputasi. Hal yang disengaja ini membuat mereka menjadi tidak berdaya. Dengan ketiadaan kaki, langkah pertama untuk mati sudah mereka lalui. Sekarang tangan mereka harus berperan ganda: menjadi kaki dan tangan sekaligus. Syahdan, orang-orang bukan pribumi Jerman ini cuma bisa merenungi nasib dan menunggu maut menjemput.
Kaki-kaki orang Yahudi dikenal memiliki kekuatan tersendiri. Itu sebabnya mereka dikumpulkan di kamp-kamp konsentrasi. kaki-kaki mereka sangat berbahaya karena bisa mendobrak ideologi dan menginjak-injak tatanan ekonomi Nazi* bila dibiarkan bebas melangkah ke seluruh negeri Jerman Raya. Jika tidak diamankan, dikhawatirkan kaki-kaki mereka akan menendang dan mengotori elit yang berkuasa. Dari dahulu kaki-kaki keturunan bangsa Yahudi menguasai permainan ekonomi dan budaya di Jerman. Sekarang kaki-kaki mereka harus digunakan untuk kepentingan pribumi Jerman yang bernama Arya. Suku bangsa yang dengan kekuatan otot-otot kakinya mampu menahan laju invasi imperium Romawi.**
Keputusan mengamputasi kaki-kaki keturunan Yahudi diambil sang Führer (pemimpin) sendiri setelah cadangan kaki di seluruh wilayah Jerman hampir habis. Pusat produksi dan depot-depot kaki hancur terkena serangan pesawat pembom sekutu. Meskipun mereka benci keturunan bangsa Yahudi, kemenangan dan kejayaan Nazi adalah yang utama. Tidak peduli bagaimana caranya. Oleh karena Nazi terlanjur mengobarkan semangat anti Yahudi, maka ditempuhlah cara yang tidak akan menodai dukungan rakyat. Keputusan menggunakan kaki-kaki orang Yahudi dirahasiakan. Sebelum dikirim ke garis depan pertempuran atau dibagi-bagikan kepada rakyat, kaki-kaki tersebut lebih dahulu diberi cap Made in Germany. Dengan begitu semangat dan daya juang tentara dan rakyat Jerman bisa diselamatkan. Rahasia ini hanya diketahui oleh Gestapo (Geheim Staat Polizei atau Polisi Rahasia Negara) dan Sang Führer sendiri.
Sementara itu tentara Jerman di garis depan hampir tidak bediri karena mereka kehabisan kaki. Akibatnya kekalahan mulai terasa di sana-sini. Kiriman kaki yang sangat diharapkan berjalan lamban. Iring-iringan truk maupun pesawat cargo yang membawa kaki terus-menerus diserang dan ditembaki tentara sekutu. Tentara sekutu telah mengetahui (setelah memecahkan sandi tentara Nazi), bahwa kaki sangat diperlukan untuk menambah kecepatan berlari dan menari. Blitzkrieg (perang kilat) Jerman ke Polandia dan negara-negara tetangganya berhasil karena kaki-kaki yang cepat berlari dan lincah menari-nari di medan pertempuran.
Ya, lincah dan menari adalah taktik perang mereka selama ini. Dengan berlari musuh menjadi takut dan kocar-kacir melihat pasukan Jerman yang tidak takut mati. Dengan menari tentara Jerman tidak pernah kehabisan semangat bila bertempur dari senja hingga pagi hari. Semangat tidak takut mati dan otot kaki merupakan perpaduan yang sempurna.
Di salah satu garis depan pertempuran dekat kota Paris, satu peleton tentara Nazi bergembira-ria. Kiriman kaki akhirnya tiba juga. Kaki-kaki segera dibagi-bagikan. Mereka menjadi bersemangat lagi setelah beberapa minggu kelelahan menunggu kiriman kaki. “Heil Hitler, heil Hitler,”*** seru mereka saat antri menerima jatah kaki.
“Mengapa aku merasa lain dengan kaki yang baru ini dibandingkan dengan kaki-kaki yang lalu,” kata Karl, seorang prajurit muda, kepada Friedrich temannya yang juga sudah mendapatkan kaki barunya.
“Mungkin ini produk baru dan lebih canggih sehingga kita merasa agak lain dan harus beradaptasi lagi,” timpal Friedrich kepada temannya yang rela mengorbankan jiwa dan raga demi Sang Führer.
Mereka bedua sangat akrab. Selain berasal dari kota yang sama, Hamburg, mereka juga sudah berteman sejak kecil. Keluarga mereka pun sudah saling mengenal akrab. Ketika Partai Nazi memanggil pemuda Jerman untuk menjadi milisi, mereka berdua mendaftarkan diri. Setelah Nazi memegang kekuasaan, otomatis mereka pun menjadi tentara reguler dan dikirim ke garis depan. Tidak mengherankan bila keduanya begitu dekat dan saling melindugi di medan pertempuran.
“Apakah dengan kaki ini kita bisa memenangkan pertempuran?” tanya Karl yang agak ragu dengan kaki barunya. Ia cemas dengan situasi yang terus berubah. Ia mendengar desas-desus bahwa Jerman mulai mengalami kekalahan di Normandi.
“Untuk membuktikannya, lebih baik kita berdua mencoba kaki baru ini saja,” ajak Friedrich dengan bijak.
“Mereka berdua mencoba kaki barunya dengan berlari dan menari-nari. Benar, kaki-kaki itu terasa agak lain. Kurang cepat jika dipakai berlari dan terasa kaku bila menari. Kaki-kaki yang mereka kenakan berlari pelan, bahkan hampir seperti berjalan. Demikian juga bila dipakai untuk menari. Tarian menjadi lamban seperti orang tua sedang menarikan tradisi. Semua pasukan merasakan hal yang sama dan mengeluhkan hal tersebut kepada pimpinan mereka. Karl, yang mewakili teman-teman lainnya, datang menemui komandan pasukan mereka dan melaporkannya.
Heil Hitler,” seru Karl sambil merentangkan tangan kanannya ke depan sebagai bentuk salam hormat prajurit Nazi. “Lapor komandan. Kaki baru berlari pelan dan terasa kaku bila menari.” Karl menceritakan kepada komandan pasukannya mengenai kaki yang baru.
“Sebagian atau semuanya?” tanya sang komandan yang agak meragukan laporan anak buahnya.
“Semuanya, Pak,” jawab Karl.
Sang komandan terdiam beberapa saat. Lalu ia bangkit dari kursinya dan kemudian mengambil contoh kaki baru yang dikeluhkan anak buahnya. “Baiklah. Nanti akan saya tanyakan ke bagian pengembangan dan pengujian kaki apakah ini model baru atau model lama yang mengalami perubahan. Jika memang benar ada perubahan atau baru sama sekali saya juga akan mintakan petunjuk pemakaiannya,” ujar sang komandan.
Namun terlambat. Sirene tanda ada serangan berbunyi. Tentara sekutu sudah keburu menyerbu. Mereka kewalahan dengan gempuran bertubi-tubi. Ditambah lagi dengan kaki-kaki yang begitu pelan berlari dan menari. Mereka semua menjadi kalang kabut karena bingung dengan kakinya.
“Kaki macam apa ini? Enggan berlari dan menari, tetapi malah enak untuk dipakai bila berdiam diri. Jelas, ini bukan kaki produksi Nazi. Tidak mungkin Nazi membuat kaki seperti ini,” ujar Karl yang bertanya-tanya dan tidak percaya dengan kakinya di sela-sela pertempuran. Desingan peluru dan gelegar ledakan bom menghujani telinga mereka.
“Jelas ini kaki orang-orang Yahudi. Kaki-kaki mereka sudah terkenal pasifis. Aku pernah mempunyai teman orang Yahudi. Kakinya persis seperti ini,” ujar Friedrich dengan yakin.
“Celaka, kita bisa kalah kalau begini. kaki Yahudi bukan untuk berperang, dan mereka selalu menjadi pencundang. Bodoh sekali….” Karl tidak dapat menyelesaikan kalimatnya. Sebuah mortir meledak tepat di depan mereka berdua. Tubuh mereka hancur. Namun kaki-kaki mereka tetap utuh dan tidak lecet sedikit pun.

Catatan:
*) Partai Nasional-Sosialisme (National-Sozialismus disingkat menjadi Nazi) yang dipimpin oleh Hitler menguasai kekuatan politik Jerman sebelum memulai Perang Dunia ke-2.
**) Ketika kekaisaran Romawi ingin memperluas wilayah kekuasaannya ke Jerman, langkah mereka terhadang suku bangsa Barbar (Jerman). Kisah di dalam komik Asterix mengambil latar belakang suku bangsa Barbar yang tidak terkalahkan dan sangat ditakuti tentara Romawi.
***) Hitler Yang Agung.

Hutan Perawan

Oleh:  Riva Julianto
 


Alkisah ada suatu larangan bagi warga dusun Empat Lima. Mereka tidak boleh masuk ke dalam hutan perawan. Larangan itu adalah hukum adalah hukum adat yang sudah diwariskan secara turun-temurun. Konon menurut cerita yang dikisahkan dari generasi ke generasi, barangsiapa masuk ke dalamnya tidak akan mungkin kembali lagi. Tidak akan bisa keluar lagi. Di dalamnya hidup binatang-binatang buas yang setia menjaga keperawanan hutan. Mereka siap memangsa makhluk hidup yang masuk ke dalamnya. Para warga dusun mempercayai bahwa di dalam hutan perawan itulah roh orang yang mati bersemayam. Jika roh itu terganggu dan kemudian marah, maka dusun mereka akan mendapat celaka dan malapetaka.
Pernah suatu ketika seorang anak kecil tidak sengaja memasukkinya. Ia hilang begitu saja. Lenyap seperti tertelan raksasa hitam. Beberapa hari kemudian dusun mereka tertimpa musibah diserang sekawanan gajah. Beberapa rumah dan ladang hancur diinjak-injak gajah. Mereka percaya gajah-gajah itu merusak dusun mereka karena hutan perawan telah mereka nodai. Pernah pula ada seorang anak muda yang ingin mencoba keberaniannya untuk masuk ke dalamnya. Ia tidak pernah kembali sampai hari ini. Kerabat yang ditinggalkannya pun akhirnya meninggal semua. Mereka mati dalam pasungan akibat menderita suatau penyakit misterius. Demikianlah kisah yang melingkupi hutan perawan dan diwariskan turun-temurun di dalam kehidupan warga dusun terpencil ini.
Hutan perawan lebat dan gelap. Sinar matahari tidak bisa menembus kanopi dedaunan pohon-pohon raksasa di dalamnya. Batang-batang pohon berusia ribuan tahun besarnya hampir sebesar rumah mereka. Lolongan berbagai macam binatang siang dan malam saling bergantian memecahkan keheningan. Untuk mencegah orang memasukkinya, warga dusun akhirnya membuat pagar sebagai garis pemisah antara hutan perawan dan dusun mereka.
Adalah Pak Misyad orang yang sangat dihormati warga dusun Empat Lima. Semua petuahnya membawa berkah bagi masyarakat dusunnya. Sebagai seorang tetua adat, semua pendapatnya menjadi pendapat masyarakat. Kepadanyalah warga dusun bertanya dan menyelesaikan masalah di antara mereka. Tidak ada masalah yang tidak pernah selesai di tangan Pak Misyad. Ia orang yang sangat disegani dan bijaksana.
Dusun Empat Lima terletak di pedalaman hutan perawan Kalimantan. Warga dusun tersebut umumnya bekerja sebagai petani ala kadarnya. Menggarap tanah yang tidak seberapa luasnya hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan menjual sisanya ke oasar di hulu sungai. Mereka tidak pernah berusaha untuk menjadi kaya. Alam menyediakan seluruh kebutuhan mereka. Rumah-rumah panggung yang mereka tempati semuanya terbuat dari batang kayu dan atap rumbia.
Saat ini pikiran Pak Misyad sedang galau. Sebagai tetua adat ia sudah sering memecahkan persoalan di dusunnya. Akan tetapi ia sendiri merasa tidak bisa berbuat apa-apa di hadapan hutan lebat yang sangat ditakuti dan dikeramatkan setiap generasi dusunnya. Hampir setiap hari waktunya dihabiskan dengan berdiri di tepi hutan lebat dan gelap yang telah dipagari. Ia berusaha melihat jauh ke dalam hutan. Namun pandangannya hanya bisa melihat beberapa meter saja. Lebih dari itu cuma kegelapan yang tampak.
Masalah yang membuatnya galau adalah menghadapi generasi muda dusunnya. Jika mereka bertanya tentang hutan perawan, jawabannya tetap sama: cerita-cerita warisan. Cerita yang membuatnya gundah-gulana. Jika cerita itu terus-menerus diwariskan ke setiap generasi, ia takut kalau tardisi ini akan membuat anak-anak cucu mereka manjadi frustasi, lalu pindah ke kota. Kehidupan di kota memberi mereka kebebasan bertanya seerpti yang diajarkan di sekolah-sekolah di masa kini.
Namun mencari tahu apa yang ada di dalam hutan perawan sama saja menghancurkan dusunnyaperlahan-lahan. Sementara ia sendiri sebagai panutan warganya tidak bisa melawan dan mengubah hukum adat. Bila hutan perawan tidak perawan lagi, maka tidak ada lagi yang bisa dihargai dan dibanggakan dusunnya. Pada akhirnya dirinya sendiri juga tidak akan dihargai dan dihormati lagi warga dusunnya. Ia tidak ingin hal itu terjadi pada dirinya. Hati Pak Misyad menjadi semakin miris.
Suatu hari Pak Misyad seperti biasanya memandangi hutan perawan dengan rasa takjub dan keingintahuan. Ia berdiri di dekat pagar yang membatasi hutan perawan dan dusunnya. Ia merasa ingin meloncati pagar itu dan kemudian masuk ke dalam hutan perawan. Akan tetapi hal itu cuma angan-angannya saja.
Sekonyong-konyong kesadarannya hilang. Ia merasakan bisa mendengar pembicaraan pohon dan binatang. Terdengar suara jeritan kesakitan, teriakan kematian, tangisan kesedihan, makian dan juga umpatan kehidupan dari balik hutan. Ia menjadi takut setengah mati. Ia pun segera berlari sekencang-kencangnya. Sebuah suara yang memekakkan telinga menyuruhnya kembali.
“Hei Misyad, kenapa kau berlari? Aku tidak akan memangsamu. Kembalilah,” ujar suara yang menggema di telinganya.
Misyad menghentikan langkahnya. Kemudia ia berbalik dan memandang ke dalam hutan perawan yang gelap itu.
“Siapa kau? Kenapa tidak kau tampakkan wujudmu?” tanya Misyad ketakutan.
“Aku di sini. Apa kau tidak bisa melihatku?” tanya suara itu.
Pak Misyad mencari-cari sumber suara itu di sekelilingnya. Tidak ada seorang pun di sana. “Di mana kau?” tanya Pak Misyad putus asa karena tidak menemukan suara yang dicarinya.
“Aku di sini. Tidak jauh darimu,” suara itu begitu jelas terdengar di kupingnya. Pasti tidak jauh dari tempatnya berdiri, pikir Pak Misyad. Ia menduga suara itu berasal dari hutan perawan. Ia pun melangkah maju menuju hutan perawan. Pagar pembatas di panjatnya.
“Katakan siapa dan di mana kau berada?” tanya Pak Misyad dengan suara lantang.
Aku di sini. Tidak jauh darimu. Aku bahkan tahu apa yang ada di dalam pikiranmu,” kata suara itu lagi dan bertambah nyaring dan jelas.
Pak Misyad seakan lupa larangan adat. Selangkah lagi hutan perawan dimasukkinya. Suara itu membuat ia melupakan segalanya. Ia ingin segara mencari suara tak beraga yang telah menggodanya.
Ia menghentikan langkahnya. “Katakan di mana kau berada. Jika tidak aku akan pulang saja,” ancam Pak Misyad.
“Kau tidak ingin mengetahui siapa aku sebenarnya?” tanya suara yang entah siapa orangnya.
“Sebagai tetua adat aku lebih baik mati dari pada melanggar aturan adat,” jawab Pak Misyad tegas.
“Masuklah dahulu. Setelah itu baru kau bisa melihat wujudku,” ujar suara itu menggodanya.
“Tidak mau,” ujar Misyad sambil membalikkan badannya bergegas pergi meninggalkan hutan perawan.
Orkestra suara jeritan, teriakan, tangisan, makian dan umpatan kehidupan dimulai lagi. Orkestra suara-suara itu mengikutinya lagi ke mana pun ia pergi dan selalu terngiang di telinganya ketika tidur. Akhirnya Pak Misyad tidak tahan mendengar suara yang membuat dirinya tidak bisa tenang. Keesokan harinya ia kembali ke tepi hutan perawan.
“Hentikan suaramu. Aku tidak tahan,” pinta Pak Misyad kepada suara entah siapa itu.
“Nah, kau merasakan sendiri penderitaanmu,” ujar suara itu lagi.”Sekarang masuklah dan lihatlah diriku.”
Pak Misyad terdiam sesaat. Menarik nafas panjang untuk menghimpun semua keberaniannya. Ia membayangkan malapetaka dan celaka yang akan menimpa dusunnya. Akan tetapi ia juga merisaukan gangguan suara-suara yang menyayat hatinya. Ia takut bila suara-suara itu menggejolakkan emosinya sehingga dapat membuatnya mudah marah dan tidak bijaksana. Jika hal itu terjadi, maka ia pun akan dicela sebagai orang yang patut diteladani warga dusunnya.
“Baik, aku akan masuk. Tapi jangan kau coba-coba bohongi aku,” ujar Pak Misyad dengan nada mengancam.
Ia segera melangkah masuk ke dalam hutan perawan. Yang didapatinya cuma kegelapan dan gemerisik dedaunan tertiup angin.
“Kau bodoh Misyad,” suara itu muncul di tengah kebingungan Pak Misyad. “Sejak dahulu aku selalu bersamamu. Percuma saja kau mencari aku. Aku ada di lubuk hatimu. Tetapi kau selalu elakkan aku. Karena kau telah menodaiku, maka celakalah hidupmu.”


Semut dan Belalang

Oleh : William Sommerset Maugham

Masa kanak-kanakku diisi dengan cerita-cerita fabel La Fortane yang ajaran moralnya dijelaskan dengan hati-hati kepadaku. Salah satu di antaranya adalah kisah semut dan belalang, yang ditulis untuk dibaca anak-anak di rumah sebagai pelajaran berharga. Di dalam dunia industri, cerita itu tidak begitu dihargai dan dianggap memusingkan. Di dalam fabel yang bagus ini (aku mohon maaf mengatakan sesuatu yang kukira semua orang sudah tahu, tetapi belum pasti), semut melewatkan musim panas yang keras dengan mengisi gudang makanan untuk musin dingin, sementara belalang bertengger di ilalang bernyanyi pada matahari. Musim dingin tiba dan semut merasa nyaman, tetapi belalang kelaparan. Ia pergi menemui semut dan minta sedikit makanan.
Kemudian semut memberi jawaban klasik :
“Apa yang kau lakukan di musim panas?”
“Menyambut kehadiranmu, aku bernyanyi, aku bernyanyi, aku bernyanyi sepanjang hari, sepanjang malam.”
“Kau bernyanyi. Mengapa sekarang tidak pergi dan menari?”
Aku tidak menyalahkan cerita itu menggoyahkan batinku, tetapi lebih sebagai ketidak-konsekuenan masa kanak-kanak dalam hal ajaran moral yang terus saja bergolak di dalam diriku. Simpatiku ada pada belalang dan kadang-kadang aku tidak pernah melihat seekor semut tanpa menginjaknya. Dalam ringkasan cerita ini (dan sejak aku menyadari semuanya manusiawi) aku mencoba memperhatikan ketidaksetujuaanku pada keadaan dan nilai masyarakat umum.
Aku tidak bisa memikirkan fabel ini bila kemarin kulihat George Ramsay makan siang seorang diri di sebuah restoran. Aku tidak pernah melihat orang memakai baju gelap sebagai bentuk ekspresi. Ia mengamati ruangan itu, seakan beban seluruh dunia ada di pundaknya. Aku kasihan padanya. Kukira adik lelakinya yang malang membuat masalah lagi. Aku menghampirinya dan menjulurkan tanganku.
“Apa kabar,” tanyaku.
“Aku sedang sedih,” jawabnya.
“Tom lagi?”
Ia menarik nafas.
“Ya, Tom lagi.”
“Kenapa tidak kau biarkan saja? Kau berbuat segalanya demi dia. Kau harus menyadarinya, bahwa ia bisa diharapkan.”

Aku kira setiap keluarga punya kambing hitam. Tom menyusahkan selama dua puluh tahun. Ia memulai hidupnya dengan baik. Ia bekerja, menikah dan punya dua anak. Keluarga Ramsay adalah keluarga terpandang dan mungkin beralasan bila kemudian Tom Ramsay akan punya karir tinggi dan terhormat.
Tetapi suatu hari, tanpa ada tanda-tanda, ia mengatakan bahwa ia tidak suka bekerja dan tidak pantas untuk menikah. Ia ingin menikmati hidupnya sendiri. Ia tidak mau mendengar pendapat orang lain. Ia tinggalkan pekerjaan dan kantornya. Ia punya sedikit uang dan menghabiskan waktu selama dua tahun dengan berfoya-foya di berbagai kota di Eropa.
Menurut kabar angin apa yang diperbuatnya diamati oleh keluarganya terus menerus dan mereka sangat terguncang. Hidupnya tentu saja bersenang-senang. Mereka menggeleng-gelengkan kepala dan bertanya-tanya apa yang akan terjadi bila uangnya habis. Mereka segera tahu, bahwa ia meminjam uang. Ia punya pemasukan berkala dari temannya dan ia pandai bergaul. Tetapi ia selalu bilang, bahwa uang yang dihabiskan adalah uang adalah uang yang kalian habiskan untuk kemewahan. Untuk ini ia bergantung kepada kakakknya George. Ia tidak merayunya. George orangnya serius dan tidak mempan bujuk rayu. George sangat dihormati. Sekali dua kali ia pernah terjebak janji Tom untuk berubah dan memberinya sejumlah uang yang cukup supaya Tom bisa memulai hidup baru. Oleh Tom uang itu dibelikan sebuah mobil dan beberapa permata mahal. Tetapi kemudian keadaan memaksa George untuk menyadarinya, bahwa adik lelakinya tidak akan pernah puas dan akhirnya ia bersikap masa bodoh padanya. Tom, tanpa sesal, mulai memerasnya.
Sebagai pengacara terpandang, tidak baik punya adik yang mengaduk cocktail di restoran favoritnya atau melihatnya menunggu di belakang kemudi taksi di luar klub. Tom bilang menjadi pelayan bar atau pengemudi taksi adalah pekerjaan yang pantas, tetapi jika George bisa memberinya beberapa ratus pound, ia tidak keberatan demi kehormatan keluarga berhenti dari pekerjaan itu. George memberinya.
Tom pernah hampir masuk penjara. George sangat marah. Tom terjerumus ke dalam noda. Tom sungguh keterlaluan. Ia menjadi liar, tidak punya pikiran, dan egois. Padahal sebelumnya ia tidak pernah berbohong, yang melanggar hukum maksud George. Jika dia diadili pasti dihukum.
Tetapi George tidak bisa membiarkan adik lelaki satu-satunya masuk penjara. Orang yang ditipu Tom adalah Cronshaw, yang ingin membalas dendam. Ia berniat membawa masalah itu ke pengadilan. Ia bilang, Tom adalah bajingan dan harus dihukum. George harus mendamaikan masalah ini dan lima ratus pound dikeluarkan untuk masalah ini. Saya tidak pernah melihat dia sedemikian marah ketika mendengar Tom dan Cronshaw pergi bersama-sama ke Monte Carlo setelah mereka mencairkan cek yang diberikannya. Mereka bersenang-senang di sana selama sebulan.
Selama dua puluh tahun, Tom berjudi, main perempuan, berpesta- dansa, makan di restoran paling mahal dan berpakaian necis. Ia selalu kelihatan seperti punya segalanya. Meskipun umurnya empat puluh enam tahun, orang akan mengira umurnya tidak lebih dari tiga puluh lima. Ia seorang teman yang bikin pusing, dan meskipun orang tahu ia tidak berharga, orang tidak bisa menikmati kehidupannya. Ia punya semangat hidup yang tinggi, sangat ceria dan tampan. Aku tidak pernah cemburu pada pemberian yang ia terima dariku secara berkala untuk keperluan hidupnya. Aku tidak pernah meminjamkannya lima puluh pound tanpa merasa bahwa ia berhutang padaku. Tom Ramsay tahu semua orang dan semua orang tahu Tom Ramsay. Orang bisa saja tidak suka padanya, tetapi orang juga tidak bisa tidak suka padanya.
George yang malang. Usianya hanya setahun lebih tua dari adiknya yang bandel, tetapi kelihatannya seperti berumur enampuluhan. Ia tidak pernah mengambil cuti empat belas hari dalam setahun selama dua puluh lima tahun. Ia ada di kantor setiap pagi pukul setengah sepuluh dan tidak pulang sebelum pukul enam. Ia jujur, rajin dan dihormati. Ia punya istri yang baik, tidak pernah dikhianatinya walaupun cuma dalam angan-angan sekalipun dan empat anak perempuan yang amat disayanginya. Ia menabung sepertiga pengahasilannya dan berencana akan pensiun pada umur lima puluh lima tahun, lalu pindah di sebuah rumah kecil di desa dimana ia bisa menggarap kebun dan bermain golf. Ia senang bahwa ia bertambah tua, karena Tom juga bertambah tua. 
Ia menggosokkan tangannya dan berkata;
“Ketika Tom masih muda dan tampan, semuanya sangat menyenangkan. Tetapi umurnya berbeda satu tahun saja denganku. Empat tahun mendatang usianya jadi lima puluh tahun. Hidupnya akan bertambah berat. Aku akan punya tiga puluh ribu pound saat usiaku lima puluh. Selama dua puluh lima tahun aku selalu bilang, bahwa hidup Tom akan berakhir miskin. Kita akan lihat bagaimana ia jadinya nanti. Kita lihat mana yang lebih menguntungkan, bekerja atau bermalas-malasan.”
George yang malang ! Aku kasihan padanya. Aku jadi ingin tahu, perbuatan hina apa yang telah diperbuat Tom saat aku duduk di sebelah George. Ia terlihat sangat marah “Kau tahu apa yang terjadi sekarang?” tanyanya padaku.
Aku yakin sesuatu hal yang buruk. Aku mengira, bahwa Tom pasti ditangkap polisi. George bisa juga bicara keras.
“Kau tidak bisa memungkiri, bahwa selama hidupku aku bekerja keras, berbuat baik dan terhormat, dan berjuang demi masa depan. Selama hidup berhemat dan bekerja keras, masa depanku akan menghasilkan banyak penghasilan karena pangkat tinggi. Aku selalu mengerjakan tugasku dalam cara seperti itu yang dengan senang hati ditakdirkan kepadaku.”
“Benar.”
“Dan kau tidak bisa memungkiri, bahwa Tom adalah pemalas, tidak berguna, cabul, bajingan. Jika ada keadilan pasti ia sudah di gubug reyot.”
“Benar.”
Muka George memerah.
“Beberapa minggu lalu ia menikah dengan wanita tua yang pantas menjadi ibunya. Sekarang wanita itu mati dan mewariskan semuanya pada Tom. Uang setengah juta pound, sebuah kapal layar, sebuah rumah di London dan sebuah rumah di desa.”
George Ramsay memukul meja dengan kepalan tangannya.
“Ini tidak adil, kukatakan padamu, ini tidak adil.”
Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Tawaku meledak ketika melihat murkanya George. Aku berputar di kursiku, hampir saja aku jatuh ke lantai. George menjadi marah padaku. Namun begitu, Tom sering mengundangku makan malam di rumahnya yang indah di Mayfair. Jika ia sesekali meminjam kepadaku, hal itu hanya sekadar kebiasaannya saja, bukan karena kekuasaannya.
(pent : Riva Julianto- Kompas, 31 Des 1995)