Tuesday, March 12, 2013

Cintailah Kakimu Sendiri

Oleh: Riva Julianto



Di kamp konsentrasi di Ausschwitz, Buchenwald dan di tempat lainnya, orang-orang Yahudi tidak berkaki. Kaki mereka diamputasi. Hal yang disengaja ini membuat mereka menjadi tidak berdaya. Dengan ketiadaan kaki, langkah pertama untuk mati sudah mereka lalui. Sekarang tangan mereka harus berperan ganda: menjadi kaki dan tangan sekaligus. Syahdan, orang-orang bukan pribumi Jerman ini cuma bisa merenungi nasib dan menunggu maut menjemput.
Kaki-kaki orang Yahudi dikenal memiliki kekuatan tersendiri. Itu sebabnya mereka dikumpulkan di kamp-kamp konsentrasi. kaki-kaki mereka sangat berbahaya karena bisa mendobrak ideologi dan menginjak-injak tatanan ekonomi Nazi* bila dibiarkan bebas melangkah ke seluruh negeri Jerman Raya. Jika tidak diamankan, dikhawatirkan kaki-kaki mereka akan menendang dan mengotori elit yang berkuasa. Dari dahulu kaki-kaki keturunan bangsa Yahudi menguasai permainan ekonomi dan budaya di Jerman. Sekarang kaki-kaki mereka harus digunakan untuk kepentingan pribumi Jerman yang bernama Arya. Suku bangsa yang dengan kekuatan otot-otot kakinya mampu menahan laju invasi imperium Romawi.**
Keputusan mengamputasi kaki-kaki keturunan Yahudi diambil sang Führer (pemimpin) sendiri setelah cadangan kaki di seluruh wilayah Jerman hampir habis. Pusat produksi dan depot-depot kaki hancur terkena serangan pesawat pembom sekutu. Meskipun mereka benci keturunan bangsa Yahudi, kemenangan dan kejayaan Nazi adalah yang utama. Tidak peduli bagaimana caranya. Oleh karena Nazi terlanjur mengobarkan semangat anti Yahudi, maka ditempuhlah cara yang tidak akan menodai dukungan rakyat. Keputusan menggunakan kaki-kaki orang Yahudi dirahasiakan. Sebelum dikirim ke garis depan pertempuran atau dibagi-bagikan kepada rakyat, kaki-kaki tersebut lebih dahulu diberi cap Made in Germany. Dengan begitu semangat dan daya juang tentara dan rakyat Jerman bisa diselamatkan. Rahasia ini hanya diketahui oleh Gestapo (Geheim Staat Polizei atau Polisi Rahasia Negara) dan Sang Führer sendiri.
Sementara itu tentara Jerman di garis depan hampir tidak bediri karena mereka kehabisan kaki. Akibatnya kekalahan mulai terasa di sana-sini. Kiriman kaki yang sangat diharapkan berjalan lamban. Iring-iringan truk maupun pesawat cargo yang membawa kaki terus-menerus diserang dan ditembaki tentara sekutu. Tentara sekutu telah mengetahui (setelah memecahkan sandi tentara Nazi), bahwa kaki sangat diperlukan untuk menambah kecepatan berlari dan menari. Blitzkrieg (perang kilat) Jerman ke Polandia dan negara-negara tetangganya berhasil karena kaki-kaki yang cepat berlari dan lincah menari-nari di medan pertempuran.
Ya, lincah dan menari adalah taktik perang mereka selama ini. Dengan berlari musuh menjadi takut dan kocar-kacir melihat pasukan Jerman yang tidak takut mati. Dengan menari tentara Jerman tidak pernah kehabisan semangat bila bertempur dari senja hingga pagi hari. Semangat tidak takut mati dan otot kaki merupakan perpaduan yang sempurna.
Di salah satu garis depan pertempuran dekat kota Paris, satu peleton tentara Nazi bergembira-ria. Kiriman kaki akhirnya tiba juga. Kaki-kaki segera dibagi-bagikan. Mereka menjadi bersemangat lagi setelah beberapa minggu kelelahan menunggu kiriman kaki. “Heil Hitler, heil Hitler,”*** seru mereka saat antri menerima jatah kaki.
“Mengapa aku merasa lain dengan kaki yang baru ini dibandingkan dengan kaki-kaki yang lalu,” kata Karl, seorang prajurit muda, kepada Friedrich temannya yang juga sudah mendapatkan kaki barunya.
“Mungkin ini produk baru dan lebih canggih sehingga kita merasa agak lain dan harus beradaptasi lagi,” timpal Friedrich kepada temannya yang rela mengorbankan jiwa dan raga demi Sang Führer.
Mereka bedua sangat akrab. Selain berasal dari kota yang sama, Hamburg, mereka juga sudah berteman sejak kecil. Keluarga mereka pun sudah saling mengenal akrab. Ketika Partai Nazi memanggil pemuda Jerman untuk menjadi milisi, mereka berdua mendaftarkan diri. Setelah Nazi memegang kekuasaan, otomatis mereka pun menjadi tentara reguler dan dikirim ke garis depan. Tidak mengherankan bila keduanya begitu dekat dan saling melindugi di medan pertempuran.
“Apakah dengan kaki ini kita bisa memenangkan pertempuran?” tanya Karl yang agak ragu dengan kaki barunya. Ia cemas dengan situasi yang terus berubah. Ia mendengar desas-desus bahwa Jerman mulai mengalami kekalahan di Normandi.
“Untuk membuktikannya, lebih baik kita berdua mencoba kaki baru ini saja,” ajak Friedrich dengan bijak.
“Mereka berdua mencoba kaki barunya dengan berlari dan menari-nari. Benar, kaki-kaki itu terasa agak lain. Kurang cepat jika dipakai berlari dan terasa kaku bila menari. Kaki-kaki yang mereka kenakan berlari pelan, bahkan hampir seperti berjalan. Demikian juga bila dipakai untuk menari. Tarian menjadi lamban seperti orang tua sedang menarikan tradisi. Semua pasukan merasakan hal yang sama dan mengeluhkan hal tersebut kepada pimpinan mereka. Karl, yang mewakili teman-teman lainnya, datang menemui komandan pasukan mereka dan melaporkannya.
Heil Hitler,” seru Karl sambil merentangkan tangan kanannya ke depan sebagai bentuk salam hormat prajurit Nazi. “Lapor komandan. Kaki baru berlari pelan dan terasa kaku bila menari.” Karl menceritakan kepada komandan pasukannya mengenai kaki yang baru.
“Sebagian atau semuanya?” tanya sang komandan yang agak meragukan laporan anak buahnya.
“Semuanya, Pak,” jawab Karl.
Sang komandan terdiam beberapa saat. Lalu ia bangkit dari kursinya dan kemudian mengambil contoh kaki baru yang dikeluhkan anak buahnya. “Baiklah. Nanti akan saya tanyakan ke bagian pengembangan dan pengujian kaki apakah ini model baru atau model lama yang mengalami perubahan. Jika memang benar ada perubahan atau baru sama sekali saya juga akan mintakan petunjuk pemakaiannya,” ujar sang komandan.
Namun terlambat. Sirene tanda ada serangan berbunyi. Tentara sekutu sudah keburu menyerbu. Mereka kewalahan dengan gempuran bertubi-tubi. Ditambah lagi dengan kaki-kaki yang begitu pelan berlari dan menari. Mereka semua menjadi kalang kabut karena bingung dengan kakinya.
“Kaki macam apa ini? Enggan berlari dan menari, tetapi malah enak untuk dipakai bila berdiam diri. Jelas, ini bukan kaki produksi Nazi. Tidak mungkin Nazi membuat kaki seperti ini,” ujar Karl yang bertanya-tanya dan tidak percaya dengan kakinya di sela-sela pertempuran. Desingan peluru dan gelegar ledakan bom menghujani telinga mereka.
“Jelas ini kaki orang-orang Yahudi. Kaki-kaki mereka sudah terkenal pasifis. Aku pernah mempunyai teman orang Yahudi. Kakinya persis seperti ini,” ujar Friedrich dengan yakin.
“Celaka, kita bisa kalah kalau begini. kaki Yahudi bukan untuk berperang, dan mereka selalu menjadi pencundang. Bodoh sekali….” Karl tidak dapat menyelesaikan kalimatnya. Sebuah mortir meledak tepat di depan mereka berdua. Tubuh mereka hancur. Namun kaki-kaki mereka tetap utuh dan tidak lecet sedikit pun.

Catatan:
*) Partai Nasional-Sosialisme (National-Sozialismus disingkat menjadi Nazi) yang dipimpin oleh Hitler menguasai kekuatan politik Jerman sebelum memulai Perang Dunia ke-2.
**) Ketika kekaisaran Romawi ingin memperluas wilayah kekuasaannya ke Jerman, langkah mereka terhadang suku bangsa Barbar (Jerman). Kisah di dalam komik Asterix mengambil latar belakang suku bangsa Barbar yang tidak terkalahkan dan sangat ditakuti tentara Romawi.
***) Hitler Yang Agung.

No comments:

Post a Comment