Oleh: Riva Julianto
Di
kamp konsentrasi di Ausschwitz, Buchenwald dan di tempat lainnya, orang-orang
Yahudi tidak berkaki. Kaki mereka diamputasi. Hal yang disengaja ini membuat
mereka menjadi tidak berdaya. Dengan ketiadaan kaki, langkah pertama untuk mati
sudah mereka lalui. Sekarang tangan mereka harus berperan ganda: menjadi kaki
dan tangan sekaligus. Syahdan, orang-orang bukan pribumi Jerman ini cuma bisa
merenungi nasib dan menunggu maut menjemput.
Kaki-kaki
orang Yahudi dikenal memiliki kekuatan tersendiri. Itu sebabnya mereka
dikumpulkan di kamp-kamp konsentrasi. kaki-kaki mereka sangat berbahaya karena
bisa mendobrak ideologi dan menginjak-injak tatanan ekonomi Nazi* bila
dibiarkan bebas melangkah ke seluruh negeri Jerman Raya. Jika tidak diamankan,
dikhawatirkan kaki-kaki mereka akan menendang dan mengotori elit yang berkuasa.
Dari dahulu kaki-kaki keturunan bangsa Yahudi menguasai permainan ekonomi dan
budaya di Jerman. Sekarang kaki-kaki mereka harus digunakan untuk kepentingan
pribumi Jerman yang bernama Arya. Suku bangsa yang dengan kekuatan otot-otot
kakinya mampu menahan laju invasi imperium Romawi.**
Keputusan
mengamputasi kaki-kaki keturunan Yahudi diambil sang Führer (pemimpin) sendiri
setelah cadangan kaki di seluruh wilayah Jerman hampir habis. Pusat produksi
dan depot-depot kaki hancur terkena serangan pesawat pembom sekutu. Meskipun
mereka benci keturunan bangsa Yahudi, kemenangan dan kejayaan Nazi adalah yang
utama. Tidak peduli bagaimana caranya. Oleh karena Nazi terlanjur mengobarkan
semangat anti Yahudi, maka ditempuhlah cara yang tidak akan menodai dukungan
rakyat. Keputusan menggunakan kaki-kaki orang Yahudi dirahasiakan. Sebelum
dikirim ke garis depan pertempuran atau dibagi-bagikan kepada rakyat, kaki-kaki
tersebut lebih dahulu diberi cap Made in Germany. Dengan begitu semangat dan
daya juang tentara dan rakyat Jerman bisa diselamatkan. Rahasia ini hanya
diketahui oleh Gestapo (Geheim Staat Polizei atau Polisi Rahasia Negara)
dan Sang Führer sendiri.
Sementara
itu tentara Jerman di garis depan hampir tidak bediri karena mereka kehabisan
kaki. Akibatnya kekalahan mulai terasa di sana-sini. Kiriman kaki yang sangat
diharapkan berjalan lamban. Iring-iringan truk maupun pesawat cargo yang
membawa kaki terus-menerus diserang dan ditembaki tentara sekutu. Tentara
sekutu telah mengetahui (setelah memecahkan sandi tentara Nazi), bahwa kaki
sangat diperlukan untuk menambah kecepatan berlari dan menari. Blitzkrieg
(perang kilat) Jerman ke Polandia dan negara-negara tetangganya berhasil karena
kaki-kaki yang cepat berlari dan lincah menari-nari di medan pertempuran.
Ya,
lincah dan menari adalah taktik perang mereka selama ini. Dengan berlari musuh
menjadi takut dan kocar-kacir melihat pasukan Jerman yang tidak takut mati.
Dengan menari tentara Jerman tidak pernah kehabisan semangat bila bertempur
dari senja hingga pagi hari. Semangat tidak takut mati dan otot kaki merupakan
perpaduan yang sempurna.
Di
salah satu garis depan pertempuran dekat kota Paris, satu peleton tentara Nazi
bergembira-ria. Kiriman kaki akhirnya tiba juga. Kaki-kaki segera
dibagi-bagikan. Mereka menjadi bersemangat lagi setelah beberapa minggu
kelelahan menunggu kiriman kaki. “Heil Hitler, heil Hitler,”*** seru
mereka saat antri menerima jatah kaki.
“Mengapa
aku merasa lain dengan kaki yang baru ini dibandingkan dengan kaki-kaki yang
lalu,” kata Karl, seorang prajurit muda, kepada Friedrich temannya yang juga
sudah mendapatkan kaki barunya.
“Mungkin
ini produk baru dan lebih canggih sehingga kita merasa agak lain dan harus
beradaptasi lagi,” timpal Friedrich kepada temannya yang rela mengorbankan jiwa
dan raga demi Sang Führer.
Mereka
bedua sangat akrab. Selain berasal dari kota yang sama, Hamburg, mereka juga
sudah berteman sejak kecil. Keluarga mereka pun sudah saling mengenal akrab.
Ketika Partai Nazi memanggil pemuda Jerman untuk menjadi milisi, mereka berdua
mendaftarkan diri. Setelah Nazi memegang kekuasaan, otomatis mereka pun menjadi
tentara reguler dan dikirim ke garis depan. Tidak mengherankan bila keduanya
begitu dekat dan saling melindugi di medan pertempuran.
“Apakah
dengan kaki ini kita bisa memenangkan pertempuran?” tanya Karl yang agak ragu
dengan kaki barunya. Ia cemas dengan situasi yang terus berubah. Ia mendengar
desas-desus bahwa Jerman mulai mengalami kekalahan di Normandi.
“Untuk
membuktikannya, lebih baik kita berdua mencoba kaki baru ini saja,” ajak
Friedrich dengan bijak.
“Mereka
berdua mencoba kaki barunya dengan berlari dan menari-nari. Benar, kaki-kaki
itu terasa agak lain. Kurang cepat jika dipakai berlari dan terasa kaku bila
menari. Kaki-kaki yang mereka kenakan berlari pelan, bahkan hampir seperti
berjalan. Demikian juga bila dipakai untuk menari. Tarian menjadi lamban
seperti orang tua sedang menarikan tradisi. Semua pasukan merasakan hal yang
sama dan mengeluhkan hal tersebut kepada pimpinan mereka. Karl, yang mewakili
teman-teman lainnya, datang menemui komandan pasukan mereka dan melaporkannya.
“Heil
Hitler,” seru Karl sambil merentangkan tangan kanannya ke depan sebagai
bentuk salam hormat prajurit Nazi. “Lapor komandan. Kaki baru berlari pelan dan
terasa kaku bila menari.” Karl menceritakan kepada komandan pasukannya mengenai
kaki yang baru.
“Sebagian
atau semuanya?” tanya sang komandan yang agak meragukan laporan anak buahnya.
“Semuanya,
Pak,” jawab Karl.
Sang
komandan terdiam beberapa saat. Lalu ia bangkit dari kursinya dan kemudian
mengambil contoh kaki baru yang dikeluhkan anak buahnya. “Baiklah. Nanti akan
saya tanyakan ke bagian pengembangan dan pengujian kaki apakah ini model baru
atau model lama yang mengalami perubahan. Jika memang benar ada perubahan atau
baru sama sekali saya juga akan mintakan petunjuk pemakaiannya,” ujar sang
komandan.
Namun
terlambat. Sirene tanda ada serangan berbunyi. Tentara sekutu sudah keburu
menyerbu. Mereka kewalahan dengan gempuran bertubi-tubi. Ditambah lagi dengan
kaki-kaki yang begitu pelan berlari dan menari. Mereka semua menjadi kalang
kabut karena bingung dengan kakinya.
“Kaki
macam apa ini? Enggan berlari dan menari, tetapi malah enak untuk dipakai bila
berdiam diri. Jelas, ini bukan kaki produksi Nazi. Tidak mungkin Nazi membuat
kaki seperti ini,” ujar Karl yang bertanya-tanya dan tidak percaya dengan kakinya
di sela-sela pertempuran. Desingan peluru dan gelegar ledakan bom menghujani
telinga mereka.
“Jelas
ini kaki orang-orang Yahudi. Kaki-kaki mereka sudah terkenal pasifis. Aku
pernah mempunyai teman orang Yahudi. Kakinya persis seperti ini,” ujar Friedrich
dengan yakin.
“Celaka,
kita bisa kalah kalau begini. kaki Yahudi bukan untuk berperang, dan mereka
selalu menjadi pencundang. Bodoh sekali….” Karl tidak dapat menyelesaikan
kalimatnya. Sebuah mortir meledak tepat di depan mereka berdua. Tubuh mereka
hancur. Namun kaki-kaki mereka tetap utuh dan tidak lecet sedikit pun.
Catatan:
*) Partai
Nasional-Sosialisme (National-Sozialismus disingkat menjadi Nazi) yang dipimpin
oleh Hitler menguasai kekuatan politik Jerman sebelum memulai Perang Dunia ke-2.
**) Ketika
kekaisaran Romawi ingin memperluas wilayah kekuasaannya ke Jerman, langkah
mereka terhadang suku bangsa Barbar (Jerman). Kisah di dalam komik Asterix
mengambil latar belakang suku bangsa Barbar yang tidak terkalahkan dan sangat
ditakuti tentara Romawi.
***) Hitler Yang
Agung.
No comments:
Post a Comment