Monday, May 6, 2013

Ketika Srigala di Depan Pintu



Oleh : Steele Rudd


Musim panas sudah berlangsung lama dan kami sedang membersihkan sumur. Ayah mengangkati kotoran dari dalam sumur. Joe jongkok di tepi sumur menangkapi lalat, dan kemudian melepaskannya kembali setelah mematahkan sayap-sayapnya. Permainan yang menyenangkan baginya. Sementara Dan dan Dave menggali parit air agar air mengalir ke dalam sumur bila hujan turun. Ayah merasa haus dan menyuruh Joe mengambilkannya minum.
“Lihat dulu apakah lalat kecil ini dapat terbang dengan satu sayap, “ujar Joe. Kemudian ia pergi, tetapi kembali lagi dana berkata, “Tak ada air di ember. Ibu telah memakainya untuk memasak dan memperbaiki alat penangkap lalat.”
Ayah ingin meludah dan akan mengucapkan sesuatu ketika ibu yang sedang berjalan dari rumah ke sumur tiba-tiba berteriak, bahwa jerami makanan kuda terbakar.
“Ini dia, yah,” kata Joe sambil mematahkan kepala lalat dengan telunjuk dan ibu jarinya pelan-pelan.
Ayah segera naik ke atas dan melihat keadaan. “Astaga!” katanya. Ia segera berlari. Semua mengikutinya kecuali Joe. Ia tidak dapat berlari cepat karena kemarin habis berkuda 15 mil tanpa pelana. Ketika tiba di dekat api, ia ratakan jerami itu dengan tanah. Dihancurkannya yang paling besar terlebih dahulu. Ayah bertindak cepat. Jerami-jerami itu seakan-akan tidak tahu apa yang sedang terjadi. Ayah mengutuk dan menarik dengan sekuat tenaga. Akhirnya jerami itu hancur juga dan ayah merasa punggungnya jadi berat. Kemudian mengutuk lagi.
Menyelamatkan pagar tua yang mengitari tanah garapan adalah yang paling sulit baginya. Ke kanan kiri kami berjuang melawan api dengan dahan pohon. Panas! Panas api neraka!Di sela-sela itu muncul udara teduh karena gerakan dahan kami. Seperti pusaran angin saja gerakan dahan pohon yang dipegang ayah dan ia cepat beralih ke tempat lain. Suatu ketika kami hampir berhasil menguasai api, tetapi angin membesarkannya lagi. Nyala api bertambah tinggi dan menjalar cepat.
“Tak ada gunanya,” kata ayah akhirnya sambil menaruh tangannya di kepala dan melempar dahan pohon yang dipegangnya. Kami pun bertindak sama, berdiri dan hanya bisa melihat pagar dimakan api. Setelah makan malam kami semua pergi melihatnya lagi, dan api masih menyala. Joe berkata pada ayah, bahwa ini bukan pemandangan yang indah. Ayah tidak menggubrisnya. Ia lebih banyak diam malam itu.
Kami memutuskan untuk membuat pagar lagi. Dan menajamkan kapaknya dengan patahan kikir. Ia dan ayah akan mulai bekerja ketika ibu bertanya kepada mereka, apa yang harus diperbuatnya dengan tepung gandum yang mereka punya. Ibu bilang telah mengocok sekantong tepung agar cukup untuk membuat roti sarapan pagi, dan jika tidak dapat gandum hari ini tidak aka nada roti untuk makan malam.
Ayah memikirkan sesuatu sementara jempol Dan merasakan tajamnya kapak.
“Maukah Nyonya Dwyer memberikan kau sedikit sampai kita punya lagi?” tanya ayah.
“Tidak,” jawab ibu. “Saya tidak bisa meminta padanya sebelum mengembalikan apa yang kita pinjam dari mereka.”
Ayah berpikir lagi. “Keluarga Anderson bagaimana?” tanyanya.
Ibu menggeleng dan bertanya, apa baik meminta pada mereka sementara mereka pagi itu telah minta kepadanya.
“Apa boleh buat kita harus mencari jalan keluar yang terbaik saat ini,” jawab ayah. “Saya akan pergi ke toko sore ini, dan melihat apa yang bisa dibeli.”
Membuat pagar kembali dikerjakan ayah dengan sangat tangkas dan cepat. Seperti setan saja! Ia menebang banyak batang pohon muda dan beberapa pohon yang lebih kecil. Sementara itu kami bercucuran keringat, menarik kayu-kayu itu ke batas tanah garapan. Ayah bekerja seperti kuda, dan berharap kami pun demikian juga.
“Kalian tidak apa-apa, kan?” tanyanya jika melihat kami menatap matahari untuk mengetahui apakah senja telah tiba. “Jangan sia-siakan waktu bila kita ingin pagar ini segera berdiri dan segara bercocok tanam lagi.
Dan bekerja hampir sama kerasnya dengan ayah. Suatu saat ia kejatuhan ujung kayu besar pada kakinya hingga membuatnya melompat-lompat dengan satu kaki dan bilang, bahwa pagar yang terbakar itu membuatnya kesakitan dan kelelahan. Lalu ia berdebat dengan ayah, karena menurutnya lebih baik memasang pagar kawat sekali saja dan cepat selesai daripada harus membuang waktu untuk sesuatu yang bisa terbakar lagi.
“Kapan selesai?” tanyanya.
“Tak sampai satu minggu,” jawab ayahsambil menancapkan batang kayu di tangannya dengan kesal.
“Bodoh,” umpat ayah. “Kamu tidak berpikir apa gunanya pagar kawat tanpa kawat?”
Kemudian kami berhenti bekerja dan pergi makan malam. Tak seorang pun bercanda di meja makan. Ibu duduk terdiam di ujung meja dan menuangkan the. Ayah duduk di ujung meja satunya lagi, menyajikan labu dan membagikan daging yang sudah dingin. Ibu tidak mau daging. Salah satu dari kami tidak dapat bagian bila ibu mengambilnya.
Saya tida tahu bila ini bisa saja jadi bahan perdebatan Dan dan ayah. Atau karena tidak ada roti untuk makan malam ayah jadi sangat emosional. Bagaimana pun juga ia marah pada Joe karena datang ke meja makan dengan tangan kotor. Joe menangis dan bilang ia tidak bisa mencuci tangannya karena Dave menumpahkan air terakhir sehabis mencuci tangannya. Ayah jadi marah pada Dave dan melarang Joe mengambil labu lagi.
Makan malam hampir selesai. Dan yang terlihat masih laparmenyeringai dan bertanya pada Dave apakah ia tidak ingin roti lagi. Kemarahan ayah meledak.
“Jaga mulutmu!” katanya pada Dan. “Bisa tidak kamu serius?”
“Saya tidak bercanda,” jawab Dan dan ia tertawa lagi.
“Pergi!” kata ayah marah sambil menunjuk pintu. “Tinggalkan rumah ini. Bangsat kamu. Tidak tahu terima kasih!”
Malam itu juga Dan meninggalkan rumah.
Ayah berjanji untuk melunasi sebagian hutangnya dalam dua bulan sehingga penjaga toko bisa memberinya hutang sekantong tepung gandum lainnya. Tidak lazim sekantong gandum jadi perdebatan. Akhirnya seluruh keluarga bisa bergembira lagi. Ayah bercerita sangat antusias dengan bertani dan prospek di musim mendatang.
Empat bulan berlalu. Pagar telah berdiri sekian lamanya dan 10 are lading gandum telah ditanam. Tetapi tidak ada hujan. Tak ada biji gandum yang tumbuh, bahkan juga tanaman lainnya.
Tak ada berita tentang Dan sejak kepergiannya. Ayah bicara tentang Dan dengan ibu.
“Anak nakal itu,” ujarnya, “meninggalkan aku saat aku butuh bantuannya. Setelah setahun aku diperbudak memberinya makan dan pakaian, sekarang lihat apa yang kuterima darinya? Tetapi ingat kata-kataku, ia pasti akan senang kembali ke sini sekarang.” Tetapi ibu tidak bicara sepatah kata pun yang menjelekkan Dan.
Cuaca terus-menerus kering. Biji gandum tidak tumbuh. Ayah menjadi putus asa lagi.
Penjaga toko menagih terus tiap minggu dan mengingatkan ayah akan janjinya.
“Saya akan berikan semuanya,” kata ayah,” jika saya punya uang Tuan Rice. Tapi apa daya saya. Anda tidak dapat memecahkan batu sampai berdarah-darah.”
Kami minum the sebentar. Ayah berpikir untuk membeli gandum lagi dari upah pekerjaannya mendirikan pagar keluarga Anderson. Ketika ia meminta uangnya pada Anderson, dengan sangat menyesal ia tidak dapat membayarnya saat itu juga. Akan tetapi ia berjanji akan memberinya segera setelah sekamnya terjual. Ketika ibu mendengar Anderson tidak dapat membayar hutangnya, ia menangis dan bilang tidak ada sedikit pun gula di rumah. Tak ada kain untuk menambal baju anak-anak.
Kami tidak dapat bekerja tanpa minum teh. Ayah memperlihatkan pada ibu bagaimana cara membuat teh instan.  Ia memanggang sepotong roti di atas perapian sampai hitam seperti arang. Kemudian disiram air panas di atasnya dan membiarkan air menyerapnya. Ayah bilang rasanya enak. Ia menyukainya.
Sepasang celana Dave benar-benar sangat lusuh. Joe tidak punya jas yang pantas untuk dipakai di hari Minggu. Ayah sendiri memakai sepasang sepatu bot yang disol dengan kawat. Ibu pun jatuh sakit. Ayah berusaha sebisa mungkin menjaganya terus. Ia pun berharap akan keberuntungan pada suatu hari nanti.
Tetapi saat bicara dengan Dave, ia tidak bersemangat dan tidak tahu harus berbuat apa. Dave tidak berkata sesuatu apapun. Ia hanya bisa menyeringai. Rumah terasa seperti bukan rumah saja.
Ibu sakit dan ayah menjaganya sepanjang waktu. Semua serba sulit di rumah. Sampai suatu ketika benar-benar nyata, seekor srigala mendekati pintu. Dan datang dengan kantong penuh uang dan berkecak pinggang serta mengenakan pakaian yang gemerlap. Ayah menyalami dan menyambutnya kembali dengan hangat.
Dan bercerita tentang rekening uangnya, kain wol tebalnya dan cincin-cincinnya. Ia meminta ayahnya supaya menghancurkan, mengubah atau membakar saja semuanya daripada harus bekerja dan kelaparan karena seleksi alam.
Tetapi ayah bersikeras memilih bertani.


Republika, Minggu 14 Mei 1995
Diterjemahkan oleh Riva Julianto       
 

Sunday, May 5, 2013

Pemuda yang Jatuh Melintas

Oleh : Arcadii Averchenko


Kejadian tragis dan menyedihkan ini bermula sebagai berikut. Tiga orang yang berbeda pendirian sedang terlibat pembicaraan di lantai enam bangunan apartemen yang besar.
            Seorang wanita dengan lengan sintalnya yang indah meraih seprei ke dadanya. Ia lupa bahwa seprei tidak berfungsi ganda. Ditutup lututnya yang indah pada saat bersamaan. Wanita itu menangis, dan di sela sedu-sedannya ia berkata:
“Oh John! Aku bersumpah padamu, aku tidak bersalah! Ia membuatku bingung dan ia menggodaku. Sungguh, semuanya di luar kemauanku. Aku menolaknya…”
Pria berjaket yang memakai topi menggerak-gerakkan tangannya dan mendamprat pria ketiga di ruangan itu.
“Bajingan! Akan kutunjukkan kepadamu bahwa kau akan mampus seperti bajingan dan hukum akan memihakku! Kau harus bertanggung jawab pada korban yang penyabar ini. Kau ular! Dasar kau penggoda!”
Pria ketiga di ruangan itu adalah seorang pemuda, yang walaupun saat itu berpakaian berantakan, tampak mebosankan, namun dengan harga diri yang tinggi.
“Saya? Kenapa, saya tidak melakukan apa-apa! Saya …” ia memprotes dan memandang sedih ke pojok ruang yang kosong.
“Kau tidak melakukannya? Kalau begitu, terima ini kau bajingan!”
Lelaki kekar bermantel itu membuka jendela dan berteriak ke arah jalan. Pemuda yang pakaiannya berantakan itu di tangannya, lalu dilemparkannya ke luar.
“Menyadari dirinya melayang di udara pemuda itu dengan malu mengancingkan rompi bajunya dan berbisik dalam hati untuk menghibur dirinya.
“Tidak apa-apa. Kegagalan akan membuat kita kuat.”
Dan ia pun tetap jatuh ke bawah.
Ia belum sampai ke lantai berikutnya (lantai lima) ketika napas panjang yang dalam memancar dari dadanya.
“Kenangan akan wanita yang telah ditinggalkannya meracuni dengan pahit seluruh kebahagiaan sensasi jatuhnya.
“Ya Tuhan!” pikir anak muda itu. “Aku cinta padanya. Ia tidak berani mengakui semuanya kepada suaminya! Tuhan melindunginya! Sekarang aku bisa merasakan bahwa ia jauh dan tidak penting untukku.”
Dengan pikiran terakhir ini ia sudah mencapai lantai lima, dan saat melintasi jendela ia mengintip ke dalam karena didorong rasa ingin tahunya.
Seorang pelajar duduk di meja belajar membaca buku di meja belajar. Kepalanya ditopang tangannya.
Sambil memperhatikannya, pemuda yang jatuh melintas teringat akan hidupnya. Teringat bahwa karena itu ia melewati hari-harinya di dalam godaan duniawi, lupa untuk belajar dan membaca buku. Ia merasa ditarik ke dalam cahaya pengetahuan, ke penemuan-penemuan misteri alam dengan pikiran yang analitis, ditarik ke pemujaan di depan maestro-maestro kata-kata.
“Pelajar yang tercinta,” ingin ia menangis pada pria yang sedang membaca itu, “Kau membangunkan seluruh hasrat di dalam diriku yang tertidur dan menyembuhkan nafsu-nafsuku yang kosong dari kesia-sian hidup, yang membawaku pada realitas menyedihkan di lantai enam.
Tetapi karena tidak ingin mengacaukan pelajar itu dari belajarnya, pemuda tersebut menahan diri untuk tidak berteriak. Jatuh ke lantai empat, pikirannya berubah.
Jantungnya mengekerut dengan rasa sakit manis yang aneh. Sementara itu kepalanya menjadi pusing karena kebahagiaan dan kepasrahaan.
Seorang wanita muda duduk di jendela lantai empat dan, dengan mesin jahit di depannya, sedang mengerjakan sesuatu.
Tapi tangan putihnya yang indah lupa bekerja untuk sesaat. Matanya yang biru seperti bunga di ladang gandum yang memandang ke kejauhan. Sedang murung dan berkhayal.
Pemuda itu tidak bisa mengalihkan penglihatannya dari pemandangan ini. Beberapa perasaan baru yang kuat dan bergelora menyebar dan tumbuh di dalam hatinya.
Ia menyadari, bahwa semua pertemuan sebelumnya dengan wanita-wanita tidak lebih dari sekedar nafsu-nafsu kosong. Bahwa hanya sekarang inilah ia memahami kata-kata misterius yang aneh – Cinta.
Ia tertarik pada kehidupan rumah tangga yang tenang; kasih sayang dicintai di luar kata-kata; kehidupan yang menyenangkan , bahagia dan damai.
Kisah berikutnya, lewat sudah di mana ia baru saja melayang, menyadarkannya lebih dalam lagi terhadap keinginannya. Di jendela lantai tiga ia melihat seorang ibu sedang bersenandung pelan nina bobo dan tertawa. Bayi montok di dalam ayunannya tersenyum. Cinta dan sejenis kebanggaan seorang ibu berkilau di matanya.
“Aku juga ingin menikahi gadis di lantai empat, dan punya anak-anak yang montok berpipi merah seperti orang di lantai tiga,” renung pemuda itu. “Akan kupersembahkan seluruh diriku demi keluargaku dan menemukan kebahagiaanku di dalam pengorbanan.”
Tetapi sekarang lantai dua sudah mendekat. Pemandangan dari jendela lantai ini yang terlihat oleh si pemuda itu membuat hatinya tegang kembali.
Seorang pria dengan rambut kusut dan pandangan tidak menentu duduk di meja tulis yang megah. Ia memandangi bingkai foto di depannya. Pada saat bersamaan ia menulis dengan tangan kanannya dan tangan kirinya memegang revolver yang menempel di pelipisnya.
“Hentikan, orang gila,” pemuda itu ingin berteriak. “Hidup ini indah!” Tetapi insting perasaannya mencegahnya.
Perabotan mewah, kekayaan dan kenyamanannya membuat pemuda itu sadar, ada sesuatu yang lain dalam hidup yang bisa menghancurkan semua kenyamanan dan kepuasan ini, serta seluruh keluarga. Sesuatu kekuatan paling kuat, dahsyat….
“Bagaimana mungkin?” ia bertanya-tanya dengan berat hati. Dan seakan-akan disengaja, hidup memberinya jawaban nyaring yang sembrono di jendela lantai satu yang sekarang ia lintasi.
Nyaris tertutup oleh tirai, seorang pemuda duduk di jendela. Tidak bermantel dan tidak berbaju. Seorang wanita setengah telanjang duduk di lututnya. Menguncir lembut rambut kekasihnya dengan kedua tangannya yang merah dan memeluk dadanya dengan bergairah…
Pemuda yang jatuh melintas teringat, bahwa ia pernah melihat wanita ini (berpakaian anggun) di suatu tempat sedang berjalan dengan suaminya. Tapi pria ini tentu saja bukan suaminya. Suaminya lebih tua . Berambut hitam ikal keperakan. Sementara pria ini mempunyai rambut lurus yang indah.
Pemuda itu teringat rencananya semula. Belajar, setelah melihat seorang pelajar, menikahi gadis di lantai empat, kehidupan damai keluarga ala lantai tiga. Sekali lagi jantungnya tertekan berat.
Ia amati seluruh peristiwa yang dilaluinya. Semua kebahagiaan tidak menentu yang telah ia bayangkan. Kemudian terlihat kembali semua prosesi muda-mudi berambut indah, dan juga tentang istri dan dirinya sendiri. Terngiang kenangan siksaan pria di lantai dua dan ukuran-ukuran norma yang diambil lelaki itu untuk membebaskan dirinya dari siksaan-siksaan ini. Lalu ia pun mengerti.
“Akhirnya aku telah menyaksikan bahwa hidup itu tidak berharga! Hidup itu bodoh dan menyiksa,” pikir pemuda itu dengan senyum mencibir dan mencerca. Dengan alisnya yang mengkerut, akhirnya ia selesaikan jatuhnya ke permukaan jalan.
Jantungnya tidak lagi berdetak saat menyentuh batu jalan dengan kedua tangannya. Anggota tubuhnya yang tidak berguna sekarang hancur. Otaknya luluh pada kerasnya batu jalan.
Orang-orang yang ingin tahu berkumpul di sekitar tubuhnya yang kaku. Sebuah drama kompleks yang dialami pemuda itu beberapa saat sebelumnya tidak pernah terjadi pada mereka.


Kompas, Minggu, 10 Mei 1998

Judul asli : The Young Man Who Flew Past. Alih bahasa: Riva Julianto dari The Realm of Fiction, 74 Short Stories, edisi ke-3. Arcadii Timotheich Averchenko (1881-1925) menulis cerita pendek, drama dan lakon pendek humor, penyumbang utama jurnal sastra Satyricon yang terbit di ST. Petersburg dan tokoh penting di antara penulis-penulis Rusia saat itu. Averchenko meninggalkan Rusia saat terjadi Revolusi 1917 dan meninggal di Konstantinopel, Turki.

Tuesday, March 12, 2013

Menghadang Matahari

Oleh: Riva Julianto



Matahari adalah raja penguasa rimba galaksi. Ia berkuasa karena mempunyai bala tentara yang tak terhitung jumlahnya. Semua dilengkapi senjata cahaya dengan kekuatan jutaan watt sehingga apabila seseorang terkena cahayanya niscaya ia akan menjadi buta dan bahkan bisa membuat hilang sebuah benda tanpa meninggalkan bekas. Setiap orang tidak boleh melihatnya bila tidak ingin menjadi buta.
Jadi, setiap orang yang ingin bertemu dengannya harus menundukkan kepala. Bahkan bila ia hadir dalam upacara di tempat umum. Semua orang yang hadir harus menundukkan kepalanya. Hanya segelintir orang saja yang bisa melihatnya, yakni para penasehatnya. Itupun mereka harus memakai kacamata hitam agar tidak menjadi buta. Kacamata hitam adalah barang terlarang di seluruh wilayah hukum kerajaannya. Bila setiap orang diperbolehkan memakai kacamata hitam dan melihatnya, dikhawatirkan ia akan kehilangan wibawa di hadapan rakyatnya.
Tahtanya terletak di gugusan bima sakti, sebuah wilayah yang subur dan makmur. Jarang ada pemberontakan dan tindakan kriminal. Keadilan berjalan sempurna di negeri ini. Kalau pun ada tindakan kriminal, itu hanya ulah segelintir orang imigran yang belum bisa beradaptasi. Mereka belum terbiasa dengan suasana yang demikian dan tidak tahu harus bagaimana menghabiskan waktu senggangnya. Tidak pernah ada orang menjadi stres karena memikirkan pekerjaan atau penghasilannya. Pegawai rendah sekali pun hidupnya tidak pernah kekurangan.
Tersebutlah sebuah kerajaan lubang hitam, atau orang Inggris menyebutnya black hole kingdom, yang diperintah oleh seorang raja hitam berbadan tinggi dan besar. Gigi dan matanya pun berwarna hitam sehingga tak seorang pun bisa melihatnya. Hanya desahan nafasnya saja yang bisa dirasakan. Ia seorang raja yang sangat berkuasa, otoriter dan totaliter. Meskipun demikian ia tidak pernah melarang rakyatnya untuk melakukan apa saja. Hanya satu hal yang ia larang untuk rakyatnya, yaitu merebut kekuasaannya. Kekuasaan dijadikan undang-undang abadi yang berisi bahwa kekuasaan harus tetap di tangannya. Selain kekuasaan ia membebaskan rakyatnya untuk berbuat apa saja. Semua kendali pemerintahan ada di tangannya.
“Negara adalah saya,” ujarnya suatu ketika. Itu sebabnya mengapa ia tidak mempunyai menteri-menteri dan bala tentara. Semua kekuatan senjata dan hukum dipegangnya sendiri. Tak jikalau kerajaan ini tidak mempunyai angkatan bersenjata. Angkatan bersenjata baginya hanya akan menimbulkan benih pemberontakan karena mereka bersenjata dan bisa saja berbalik melawannya suatu ketika. Dengan tidak adanya angkatan bersenjata, otomatis ia memegang kekuasaan dan kekuatan mutlak. Nyaris mendekati maha kuasa dan maha kuat.
Kehidupan rakyatnya memang kacau-balau. Tindakan kriminal adalah realitas kehidupan sehari-hari yang biasa terjadi. Meskipun demikian, tidak pernah ada seorang pun yang mati atau mengeluh dengan kondisi seperti ini. Semua orang menyukai dan menikmatinya. Mereka tidak pernah khawatir akan mati dan hilang dari kehidupan. Sebagai warga negara, mereka dijamin oleh raja untuk menjadi abdi. Nyawa bisa direproduksi dan diperjual-belikan seenaknya di pasar-pasar. Jika satu nyawa hilang bisa lekas diganti dengan baru. Nyawa sudah menjadi kebutuhan pokok sehari-hari. Sang raja bahkan memberikan subsidi untuk komoditi yang satu ini.
Tidak mengherankan apabila ia tidak mempunyai angkatan bersenjata. Jika ingin merebut wilayah kekuasaan raja lainnya, ia tinggal mengeluarkan titah bagi rakyatnya untuk melaksanakannya. Mereka yang menolak akan dikenakan sanksi pencabutan status warga negaranya. Dengan kata lain dihukum mati karena subsidi nyawanya dicabut.
Suatu ketika hampir seluruh wilayah kerajaan di jagat raya telah dikuasainya. Hanya sebuah kerajaan yang sulit baginya untuk ditembus dan ditaklukkan, yakni kerajaan matahari. Untuk itu ia memobilisasi seluruh rakyatnya untuk berperang dan merebut wilayah kerajaan yang subur dan makmur itu. Sang raja lubang hitam begitu antusias dan ingin sekali merebutnya. Menurut dongeng yang didengarnya, inilah wilayah yang sangat produktif dan menghasilkan makanan dan bahkan juga perhiasan yang melimpah. Inilah satu-satunya kerajaan yang menjadi keadilan sebagai panutan. Memuja-muja dan mengagungkan demokrasi menjadi hal yang sangat ditentang oleh kerajaan lubang hitam.
Rakyat kerajaan lubang hitam tidak dilengkapi senjata memadai. Hanya tinta hitam yang mereka andalkan. Setitik noda hitam akan menyerap sekian ribu watt cahaya. Oleh karena itu dapat dibayangkan berapa banyak tinta yang harus mereka keluarkan untuk menaklukkan kerajaan matahari.
Syahdan, pertempuran hebat terjadi siang dan malam. Di siang hari tentara kerajaan matahari menguasai pertempuran. Tetapi di malam hari ribuan tentara matahari mengalami kematian. Sementara itu tak seorang pun dari rakyat kerajaan lubang hitam yang sedang bertempur menerima kematian. Selain tinta hitam, nyawa cadangan tidak pernah lepas dari genggaman.
Ada hal menarik di medan pertempuran. Tumbukkan tinta hitam dan cahaya jutaan watt menimbulkan pendar cahaya pelangi berwarna-warni. Semua orang yang sedang berperang menjadi tercengang bercampur rasa takjub akan keindahannya. Pemandangan ini bukan menghentikan peperangan, melainkan malah membuat mereka menjadi bersemangat untuk saling membunuh. Ternyata perang menghasilkan keindahan pemandangan. Melebihi karya seni pelukis sekaliber Leonardo da Vinci. Medan pertempuran menjadi berwarna-warni.
Hari berubah bulan. Bulan berubah tahun. Tahun berubah dekade. Dekade berubah abad. Abad berubah menjadi jubelium. Jubelium berubah menjadi milenium. Milenium kehilangan nama untuk menggantikannya. Pertempuran tidak pernah berhenti barang sesaat. Meskipun belum juga menguasai kerajaan matahari, raja lubang hitam masih dapat tersenyum senang. Seorang mata-mata membawa kabar untuknya. Dalam hitungan milyar tahun tentara kerajaan matahari akan kehabisan energi. Itulah saatnya mereka akan meraih kemenangan.
“Tidak mengapa,” ujarnya. “Milyaran tahun tidak seberapa apabila dibandingkan dengan reproduksi nyawa yang tidak mengenal kata bilangan.”
Merasa dirinya di atas angin, raja lubang hitam segera mengirim pesan melalui radiogram kepada raja matahari yang isinya berbunyi: “Jangan kau habisi energimu sia-sia. Bila kau mati, tak kubiarkan kau seorang sendiri.”