Oleh : Steele
Rudd
Musim panas sudah berlangsung lama dan kami sedang
membersihkan sumur. Ayah mengangkati kotoran dari dalam sumur. Joe jongkok di
tepi sumur menangkapi lalat, dan kemudian melepaskannya kembali setelah mematahkan
sayap-sayapnya. Permainan yang menyenangkan baginya. Sementara Dan dan Dave
menggali parit air agar air mengalir ke dalam sumur bila hujan turun. Ayah
merasa haus dan menyuruh Joe mengambilkannya minum.
“Lihat dulu apakah lalat kecil ini dapat terbang
dengan satu sayap, “ujar Joe. Kemudian ia pergi, tetapi kembali lagi dana
berkata, “Tak ada air di ember. Ibu telah memakainya untuk memasak dan
memperbaiki alat penangkap lalat.”
Ayah ingin meludah dan akan mengucapkan sesuatu ketika
ibu yang sedang berjalan dari rumah ke sumur tiba-tiba berteriak, bahwa jerami
makanan kuda terbakar.
“Ini dia, yah,” kata Joe sambil mematahkan kepala
lalat dengan telunjuk dan ibu jarinya pelan-pelan.
Ayah segera naik ke atas dan melihat keadaan.
“Astaga!” katanya. Ia segera berlari. Semua mengikutinya kecuali Joe. Ia tidak
dapat berlari cepat karena kemarin habis berkuda 15 mil tanpa pelana. Ketika
tiba di dekat api, ia ratakan jerami itu dengan tanah. Dihancurkannya yang
paling besar terlebih dahulu. Ayah bertindak cepat. Jerami-jerami itu
seakan-akan tidak tahu apa yang sedang terjadi. Ayah mengutuk dan menarik
dengan sekuat tenaga. Akhirnya jerami itu hancur juga dan ayah merasa
punggungnya jadi berat. Kemudian mengutuk lagi.
Menyelamatkan pagar tua yang mengitari tanah garapan
adalah yang paling sulit baginya. Ke kanan kiri kami berjuang melawan api
dengan dahan pohon. Panas! Panas api neraka!Di sela-sela itu muncul udara teduh
karena gerakan dahan kami. Seperti pusaran angin saja gerakan dahan pohon yang
dipegang ayah dan ia cepat beralih ke tempat lain. Suatu ketika kami hampir
berhasil menguasai api, tetapi angin membesarkannya lagi. Nyala api bertambah
tinggi dan menjalar cepat.
“Tak ada gunanya,” kata ayah akhirnya sambil menaruh
tangannya di kepala dan melempar dahan pohon yang dipegangnya. Kami pun
bertindak sama, berdiri dan hanya bisa melihat pagar dimakan api. Setelah makan
malam kami semua pergi melihatnya lagi, dan api masih menyala. Joe berkata pada
ayah, bahwa ini bukan pemandangan yang indah. Ayah tidak menggubrisnya. Ia
lebih banyak diam malam itu.
Kami memutuskan untuk membuat pagar lagi. Dan
menajamkan kapaknya dengan patahan kikir. Ia dan ayah akan mulai bekerja ketika
ibu bertanya kepada mereka, apa yang harus diperbuatnya dengan tepung gandum
yang mereka punya. Ibu bilang telah mengocok sekantong tepung agar cukup untuk
membuat roti sarapan pagi, dan jika tidak dapat gandum hari ini tidak aka nada
roti untuk makan malam.
Ayah memikirkan sesuatu sementara jempol Dan
merasakan tajamnya kapak.
“Maukah Nyonya Dwyer memberikan kau sedikit sampai
kita punya lagi?” tanya ayah.
“Tidak,” jawab ibu. “Saya tidak bisa meminta padanya
sebelum mengembalikan apa yang kita pinjam dari mereka.”
Ayah berpikir lagi. “Keluarga Anderson bagaimana?”
tanyanya.
Ibu menggeleng dan bertanya, apa baik meminta pada
mereka sementara mereka pagi itu telah minta kepadanya.
“Apa boleh buat kita harus mencari jalan keluar yang
terbaik saat ini,” jawab ayah. “Saya akan pergi ke toko sore ini, dan melihat
apa yang bisa dibeli.”
Membuat pagar kembali dikerjakan ayah dengan sangat
tangkas dan cepat. Seperti setan saja! Ia menebang banyak batang pohon muda dan
beberapa pohon yang lebih kecil. Sementara itu kami bercucuran keringat,
menarik kayu-kayu itu ke batas tanah garapan. Ayah bekerja seperti kuda, dan
berharap kami pun demikian juga.
“Kalian tidak apa-apa, kan?” tanyanya jika melihat
kami menatap matahari untuk mengetahui apakah senja telah tiba. “Jangan
sia-siakan waktu bila kita ingin pagar ini segera berdiri dan segara bercocok
tanam lagi.
Dan bekerja hampir sama kerasnya dengan ayah. Suatu
saat ia kejatuhan ujung kayu besar pada kakinya hingga membuatnya
melompat-lompat dengan satu kaki dan bilang, bahwa pagar yang terbakar itu
membuatnya kesakitan dan kelelahan. Lalu ia berdebat dengan ayah, karena
menurutnya lebih baik memasang pagar kawat sekali saja dan cepat selesai
daripada harus membuang waktu untuk sesuatu yang bisa terbakar lagi.
“Kapan selesai?” tanyanya.
“Tak sampai satu minggu,” jawab ayahsambil
menancapkan batang kayu di tangannya dengan kesal.
“Bodoh,” umpat ayah. “Kamu tidak berpikir apa
gunanya pagar kawat tanpa kawat?”
Kemudian kami berhenti bekerja dan pergi makan
malam. Tak seorang pun bercanda di meja makan. Ibu duduk terdiam di ujung meja
dan menuangkan the. Ayah duduk di ujung meja satunya lagi, menyajikan labu dan
membagikan daging yang sudah dingin. Ibu tidak mau daging. Salah satu dari kami
tidak dapat bagian bila ibu mengambilnya.
Saya tida tahu bila ini bisa saja jadi bahan
perdebatan Dan dan ayah. Atau karena tidak ada roti untuk makan malam ayah jadi
sangat emosional. Bagaimana pun juga ia marah pada Joe karena datang ke meja
makan dengan tangan kotor. Joe menangis dan bilang ia tidak bisa mencuci
tangannya karena Dave menumpahkan air terakhir sehabis mencuci tangannya. Ayah
jadi marah pada Dave dan melarang Joe mengambil labu lagi.
Makan malam hampir selesai. Dan yang terlihat masih
laparmenyeringai dan bertanya pada Dave apakah ia tidak ingin roti lagi.
Kemarahan ayah meledak.
“Jaga mulutmu!” katanya pada Dan. “Bisa tidak kamu
serius?”
“Saya tidak bercanda,” jawab Dan dan ia tertawa
lagi.
“Pergi!” kata ayah marah sambil menunjuk pintu.
“Tinggalkan rumah ini. Bangsat kamu. Tidak tahu terima kasih!”
Malam itu juga Dan meninggalkan rumah.
Ayah berjanji untuk melunasi sebagian hutangnya
dalam dua bulan sehingga penjaga toko bisa memberinya hutang sekantong tepung
gandum lainnya. Tidak lazim sekantong gandum jadi perdebatan. Akhirnya seluruh
keluarga bisa bergembira lagi. Ayah bercerita sangat antusias dengan bertani
dan prospek di musim mendatang.
Empat bulan berlalu. Pagar telah berdiri sekian
lamanya dan 10 are lading gandum telah ditanam. Tetapi tidak ada hujan. Tak ada
biji gandum yang tumbuh, bahkan juga tanaman lainnya.
Tak ada berita tentang Dan sejak kepergiannya. Ayah
bicara tentang Dan dengan ibu.
“Anak nakal itu,” ujarnya, “meninggalkan aku saat
aku butuh bantuannya. Setelah setahun aku diperbudak memberinya makan dan
pakaian, sekarang lihat apa yang kuterima darinya? Tetapi ingat kata-kataku, ia
pasti akan senang kembali ke sini sekarang.” Tetapi ibu tidak bicara sepatah
kata pun yang menjelekkan Dan.
Cuaca terus-menerus kering. Biji gandum tidak
tumbuh. Ayah menjadi putus asa lagi.
Penjaga toko menagih terus tiap minggu dan
mengingatkan ayah akan janjinya.
“Saya akan berikan semuanya,” kata ayah,” jika saya
punya uang Tuan Rice. Tapi apa daya saya. Anda tidak dapat memecahkan batu
sampai berdarah-darah.”
Kami minum the sebentar. Ayah berpikir untuk membeli
gandum lagi dari upah pekerjaannya mendirikan pagar keluarga Anderson. Ketika
ia meminta uangnya pada Anderson, dengan sangat menyesal ia tidak dapat
membayarnya saat itu juga. Akan tetapi ia berjanji akan memberinya segera
setelah sekamnya terjual. Ketika ibu mendengar Anderson tidak dapat membayar
hutangnya, ia menangis dan bilang tidak ada sedikit pun gula di rumah. Tak ada
kain untuk menambal baju anak-anak.
Kami tidak dapat bekerja tanpa minum teh. Ayah
memperlihatkan pada ibu bagaimana cara membuat teh instan. Ia memanggang sepotong roti di atas perapian
sampai hitam seperti arang. Kemudian disiram air panas di atasnya dan
membiarkan air menyerapnya. Ayah bilang rasanya enak. Ia menyukainya.
Sepasang celana Dave benar-benar sangat lusuh. Joe
tidak punya jas yang pantas untuk dipakai di hari Minggu. Ayah sendiri memakai
sepasang sepatu bot yang disol dengan kawat. Ibu pun jatuh sakit. Ayah berusaha
sebisa mungkin menjaganya terus. Ia pun berharap akan keberuntungan pada suatu
hari nanti.
Tetapi saat bicara dengan Dave, ia tidak bersemangat
dan tidak tahu harus berbuat apa. Dave tidak berkata sesuatu apapun. Ia hanya
bisa menyeringai. Rumah terasa seperti bukan rumah saja.
Ibu sakit dan ayah menjaganya sepanjang waktu. Semua
serba sulit di rumah. Sampai suatu ketika benar-benar nyata, seekor srigala
mendekati pintu. Dan datang dengan kantong penuh uang dan berkecak pinggang
serta mengenakan pakaian yang gemerlap. Ayah menyalami dan menyambutnya kembali
dengan hangat.
Dan bercerita tentang rekening uangnya, kain wol
tebalnya dan cincin-cincinnya. Ia meminta ayahnya supaya menghancurkan,
mengubah atau membakar saja semuanya daripada harus bekerja dan kelaparan
karena seleksi alam.
Tetapi ayah bersikeras memilih bertani.
Republika,
Minggu 14 Mei 1995
Diterjemahkan oleh Riva Julianto