Monday, May 6, 2013

Ketika Srigala di Depan Pintu



Oleh : Steele Rudd


Musim panas sudah berlangsung lama dan kami sedang membersihkan sumur. Ayah mengangkati kotoran dari dalam sumur. Joe jongkok di tepi sumur menangkapi lalat, dan kemudian melepaskannya kembali setelah mematahkan sayap-sayapnya. Permainan yang menyenangkan baginya. Sementara Dan dan Dave menggali parit air agar air mengalir ke dalam sumur bila hujan turun. Ayah merasa haus dan menyuruh Joe mengambilkannya minum.
“Lihat dulu apakah lalat kecil ini dapat terbang dengan satu sayap, “ujar Joe. Kemudian ia pergi, tetapi kembali lagi dana berkata, “Tak ada air di ember. Ibu telah memakainya untuk memasak dan memperbaiki alat penangkap lalat.”
Ayah ingin meludah dan akan mengucapkan sesuatu ketika ibu yang sedang berjalan dari rumah ke sumur tiba-tiba berteriak, bahwa jerami makanan kuda terbakar.
“Ini dia, yah,” kata Joe sambil mematahkan kepala lalat dengan telunjuk dan ibu jarinya pelan-pelan.
Ayah segera naik ke atas dan melihat keadaan. “Astaga!” katanya. Ia segera berlari. Semua mengikutinya kecuali Joe. Ia tidak dapat berlari cepat karena kemarin habis berkuda 15 mil tanpa pelana. Ketika tiba di dekat api, ia ratakan jerami itu dengan tanah. Dihancurkannya yang paling besar terlebih dahulu. Ayah bertindak cepat. Jerami-jerami itu seakan-akan tidak tahu apa yang sedang terjadi. Ayah mengutuk dan menarik dengan sekuat tenaga. Akhirnya jerami itu hancur juga dan ayah merasa punggungnya jadi berat. Kemudian mengutuk lagi.
Menyelamatkan pagar tua yang mengitari tanah garapan adalah yang paling sulit baginya. Ke kanan kiri kami berjuang melawan api dengan dahan pohon. Panas! Panas api neraka!Di sela-sela itu muncul udara teduh karena gerakan dahan kami. Seperti pusaran angin saja gerakan dahan pohon yang dipegang ayah dan ia cepat beralih ke tempat lain. Suatu ketika kami hampir berhasil menguasai api, tetapi angin membesarkannya lagi. Nyala api bertambah tinggi dan menjalar cepat.
“Tak ada gunanya,” kata ayah akhirnya sambil menaruh tangannya di kepala dan melempar dahan pohon yang dipegangnya. Kami pun bertindak sama, berdiri dan hanya bisa melihat pagar dimakan api. Setelah makan malam kami semua pergi melihatnya lagi, dan api masih menyala. Joe berkata pada ayah, bahwa ini bukan pemandangan yang indah. Ayah tidak menggubrisnya. Ia lebih banyak diam malam itu.
Kami memutuskan untuk membuat pagar lagi. Dan menajamkan kapaknya dengan patahan kikir. Ia dan ayah akan mulai bekerja ketika ibu bertanya kepada mereka, apa yang harus diperbuatnya dengan tepung gandum yang mereka punya. Ibu bilang telah mengocok sekantong tepung agar cukup untuk membuat roti sarapan pagi, dan jika tidak dapat gandum hari ini tidak aka nada roti untuk makan malam.
Ayah memikirkan sesuatu sementara jempol Dan merasakan tajamnya kapak.
“Maukah Nyonya Dwyer memberikan kau sedikit sampai kita punya lagi?” tanya ayah.
“Tidak,” jawab ibu. “Saya tidak bisa meminta padanya sebelum mengembalikan apa yang kita pinjam dari mereka.”
Ayah berpikir lagi. “Keluarga Anderson bagaimana?” tanyanya.
Ibu menggeleng dan bertanya, apa baik meminta pada mereka sementara mereka pagi itu telah minta kepadanya.
“Apa boleh buat kita harus mencari jalan keluar yang terbaik saat ini,” jawab ayah. “Saya akan pergi ke toko sore ini, dan melihat apa yang bisa dibeli.”
Membuat pagar kembali dikerjakan ayah dengan sangat tangkas dan cepat. Seperti setan saja! Ia menebang banyak batang pohon muda dan beberapa pohon yang lebih kecil. Sementara itu kami bercucuran keringat, menarik kayu-kayu itu ke batas tanah garapan. Ayah bekerja seperti kuda, dan berharap kami pun demikian juga.
“Kalian tidak apa-apa, kan?” tanyanya jika melihat kami menatap matahari untuk mengetahui apakah senja telah tiba. “Jangan sia-siakan waktu bila kita ingin pagar ini segera berdiri dan segara bercocok tanam lagi.
Dan bekerja hampir sama kerasnya dengan ayah. Suatu saat ia kejatuhan ujung kayu besar pada kakinya hingga membuatnya melompat-lompat dengan satu kaki dan bilang, bahwa pagar yang terbakar itu membuatnya kesakitan dan kelelahan. Lalu ia berdebat dengan ayah, karena menurutnya lebih baik memasang pagar kawat sekali saja dan cepat selesai daripada harus membuang waktu untuk sesuatu yang bisa terbakar lagi.
“Kapan selesai?” tanyanya.
“Tak sampai satu minggu,” jawab ayahsambil menancapkan batang kayu di tangannya dengan kesal.
“Bodoh,” umpat ayah. “Kamu tidak berpikir apa gunanya pagar kawat tanpa kawat?”
Kemudian kami berhenti bekerja dan pergi makan malam. Tak seorang pun bercanda di meja makan. Ibu duduk terdiam di ujung meja dan menuangkan the. Ayah duduk di ujung meja satunya lagi, menyajikan labu dan membagikan daging yang sudah dingin. Ibu tidak mau daging. Salah satu dari kami tidak dapat bagian bila ibu mengambilnya.
Saya tida tahu bila ini bisa saja jadi bahan perdebatan Dan dan ayah. Atau karena tidak ada roti untuk makan malam ayah jadi sangat emosional. Bagaimana pun juga ia marah pada Joe karena datang ke meja makan dengan tangan kotor. Joe menangis dan bilang ia tidak bisa mencuci tangannya karena Dave menumpahkan air terakhir sehabis mencuci tangannya. Ayah jadi marah pada Dave dan melarang Joe mengambil labu lagi.
Makan malam hampir selesai. Dan yang terlihat masih laparmenyeringai dan bertanya pada Dave apakah ia tidak ingin roti lagi. Kemarahan ayah meledak.
“Jaga mulutmu!” katanya pada Dan. “Bisa tidak kamu serius?”
“Saya tidak bercanda,” jawab Dan dan ia tertawa lagi.
“Pergi!” kata ayah marah sambil menunjuk pintu. “Tinggalkan rumah ini. Bangsat kamu. Tidak tahu terima kasih!”
Malam itu juga Dan meninggalkan rumah.
Ayah berjanji untuk melunasi sebagian hutangnya dalam dua bulan sehingga penjaga toko bisa memberinya hutang sekantong tepung gandum lainnya. Tidak lazim sekantong gandum jadi perdebatan. Akhirnya seluruh keluarga bisa bergembira lagi. Ayah bercerita sangat antusias dengan bertani dan prospek di musim mendatang.
Empat bulan berlalu. Pagar telah berdiri sekian lamanya dan 10 are lading gandum telah ditanam. Tetapi tidak ada hujan. Tak ada biji gandum yang tumbuh, bahkan juga tanaman lainnya.
Tak ada berita tentang Dan sejak kepergiannya. Ayah bicara tentang Dan dengan ibu.
“Anak nakal itu,” ujarnya, “meninggalkan aku saat aku butuh bantuannya. Setelah setahun aku diperbudak memberinya makan dan pakaian, sekarang lihat apa yang kuterima darinya? Tetapi ingat kata-kataku, ia pasti akan senang kembali ke sini sekarang.” Tetapi ibu tidak bicara sepatah kata pun yang menjelekkan Dan.
Cuaca terus-menerus kering. Biji gandum tidak tumbuh. Ayah menjadi putus asa lagi.
Penjaga toko menagih terus tiap minggu dan mengingatkan ayah akan janjinya.
“Saya akan berikan semuanya,” kata ayah,” jika saya punya uang Tuan Rice. Tapi apa daya saya. Anda tidak dapat memecahkan batu sampai berdarah-darah.”
Kami minum the sebentar. Ayah berpikir untuk membeli gandum lagi dari upah pekerjaannya mendirikan pagar keluarga Anderson. Ketika ia meminta uangnya pada Anderson, dengan sangat menyesal ia tidak dapat membayarnya saat itu juga. Akan tetapi ia berjanji akan memberinya segera setelah sekamnya terjual. Ketika ibu mendengar Anderson tidak dapat membayar hutangnya, ia menangis dan bilang tidak ada sedikit pun gula di rumah. Tak ada kain untuk menambal baju anak-anak.
Kami tidak dapat bekerja tanpa minum teh. Ayah memperlihatkan pada ibu bagaimana cara membuat teh instan.  Ia memanggang sepotong roti di atas perapian sampai hitam seperti arang. Kemudian disiram air panas di atasnya dan membiarkan air menyerapnya. Ayah bilang rasanya enak. Ia menyukainya.
Sepasang celana Dave benar-benar sangat lusuh. Joe tidak punya jas yang pantas untuk dipakai di hari Minggu. Ayah sendiri memakai sepasang sepatu bot yang disol dengan kawat. Ibu pun jatuh sakit. Ayah berusaha sebisa mungkin menjaganya terus. Ia pun berharap akan keberuntungan pada suatu hari nanti.
Tetapi saat bicara dengan Dave, ia tidak bersemangat dan tidak tahu harus berbuat apa. Dave tidak berkata sesuatu apapun. Ia hanya bisa menyeringai. Rumah terasa seperti bukan rumah saja.
Ibu sakit dan ayah menjaganya sepanjang waktu. Semua serba sulit di rumah. Sampai suatu ketika benar-benar nyata, seekor srigala mendekati pintu. Dan datang dengan kantong penuh uang dan berkecak pinggang serta mengenakan pakaian yang gemerlap. Ayah menyalami dan menyambutnya kembali dengan hangat.
Dan bercerita tentang rekening uangnya, kain wol tebalnya dan cincin-cincinnya. Ia meminta ayahnya supaya menghancurkan, mengubah atau membakar saja semuanya daripada harus bekerja dan kelaparan karena seleksi alam.
Tetapi ayah bersikeras memilih bertani.


Republika, Minggu 14 Mei 1995
Diterjemahkan oleh Riva Julianto       
 

No comments:

Post a Comment