Tuesday, January 7, 2014

Wajah Sedihku

oleh : Heinrich Böll




Saat mengamati burung camar di dermaga, wajah sedihku mencuri perhatian seorang polisi. Aku terpesona oleh camar yang melayang, membidik dan menu­kik ke dalam air mencari makan. Dermaga begitu sepi. Air laut hijau pekat karena minyak dan sampah-sampah mengambang di permukaannya. Tak satupun kapal berlabuh. Derek-derek berkarat, gudang-gudang  tinggal kerangkanya, bahkan tikus pun enggan hidup di antara puing hitamnya. Suasana sangat sunyi. Bertahun-tahun lamanya hubunganku dengan dunia luar terputus.

Kuperhatikan seekor camar yang sedang melayang, berayun-ayun di atas air. Kelihatannya gugup seperti melihat badai. Sesekali ia bersuara seraya menyatukan diri dengan burung lainnya. Seandainya mungkin, aku ingin mem­berinya remah roti dan menghapuskan bintik putih di sayapnya yang tidak berguna dan melatih mereka. Burung-burung itu kuberi umpan roti dan akan kujerat dengan gulungan benang. Tetapi seperti juga mereka, aku pun lapar. Meskipun lelah dan sedih, aku bergembira karena tempat ini menyenangkan sekali. Dengan tangan di dalam kantong, kupandang camar sambil merayakan kesedihan.

Sekonyong-konyong tangan seorang petugas memegang pundakku dan berujar,"Ikut!" Segera tangannya menarik bahuku. Aku tidak bergeming dan melawannya sambil berujar pelan, "Sinting."

"Jangan melawan, kamerad," ujarnya dari balik punggungku.

"Tuan Yang Terhormat," aku menjawab.
"Tidak ada kata Tuan. Kita semua kamerad!" bentaknya. Sekarang ia di sampingku, menatapku tajam. Terpaksa kutarik lagi wajah gembiraku dan mena­tap kedua matanya. Ia sangat serius bak kerbau kelaparan dan setia pada tugas puluhan tahun lamanya.

"Atas dasar apa ...," aku berusaha bicara.

"Bukti-buktinya sudah cukup," ujarnya. "Wajah sedihmu."

Aku tertawa.

"Jangan tertawa!" Ia sungguh-sungguh marah. Kukira ia sedang galau karena tidak ada pelacur, tidak ada pelaut yang berkelahi, tidak ada pen­curi atau residivis yang bisa ditangkap. Tetapi kulihat ia serius ingin menangkapku.

"Ikut ...!"

"Ada apa?" tanyaku pelan.

Dalam keadaan bingung tanganku diborgol dan aku sadar diriku ditangkap kembali. Di saat-saat terakhir, aku berpaling kecamar yang sedang melayang dan langit kelabu yang indah. Aku ingin melompat ke laut saja dan tenggelam di air kotor dari pada harus dipenjara dan diinjak-injak antek-antek sipir atau diisolasi. Namun dengan hentakkan kuat polisi itu menarikku se­hingga tidak mungkin aku melarikan diri.

"Kenapa aku ditangkap?" tanyaku lagi.

"Ada peraturan yang mewajibkan setiap orang wajib untuk bergembira."

"Saya bergembira," jawabku memelas.

"Wajah sedihmu ..." ia gerakkan kepalanya.

"Tetapi peraturan itu baru berlaku," jawabku.

"Sudah tigapuluh enam jam. Kamu tahu bahwa semua peraturan berlaku efektif duapuluh empat jam setelah diundangkan."

"Tetapi aku tidak tahu."

“Itu  bukan alasan karena telah diumumkan dua hari yang lalu lewat pengeras suara, koran dan selebaran bagi yang tidak punya radio atau tidak membaca koran.  Selebaran disebar di semua tempat. Kita lihat saja nanti di mana Anda tigapuluh enam jam terakhir ini, kawan," ia memandangku sinis.

Ia menarikku. Sekarang aku baru merasakan udara dingin dan tidak punya jaket. Aku lapar dan perutku berbunyi. Kusadari badanku bau, berjanggut, compang-camping. Ada peraturan yang mengharuskan setiap orang berpenampilan bersih, rapi, gembira dan cukup makan. Ia menarikku ke depannya seperti orang-orangan sawah yang dituduh mencuri dan harus menanggalkan mimpinya. Jalanan sepi. Jalan menuju kota tidak jauh. Aku tahu mereka akan mencari-cari alasan untuk menangkapku lagi. Jantungku berdebar keras ketika melewati tempat masa kecilku dulu, yang ingin kudatangi setelah melihat dermaga. Kebun-kebun dipenuhi tanaman liar yang terlihat indah karena tidak terawat. Banyak jalan baru. Semua taman tertata rapi dan dipersembahkan bagi patriot pejuang yang harus latihan di sini setiap hari Senin, Rabu dan Sabtu. Hanya langit dan angin yang tidak berubah, sama seperti hari-hari ketika hatiku dipenuhi mimpi.

Ketika berjalan, kulihat banyak tangsi cinta memasang lambang negara untuk mereka yang ingin berpartisipasi pada pesta hari Rabu. Semua bar harus memasang gambar gelas bir yang bergaris warna patriotik daerah: coklat muda, coklat tua, coklat muda. Tidak salah lagi, kegembiraan yang diperin­tahkan telah merasuk ke hati mereka dan juga ke dalam daftar peminum hari Rabu nanti sehingga boleh ikut pesta bir tersebut.

Terlihat ada semangat pada orang-orang yang bertemu dengan kami. Aura industri menyelimuti mereka. Terlebih lagi ketika mereka melihat polisi. Jalan mereka menjadi lebih cepat. Ada wajah-wajah yang dipaksakan. Wanita-wanita yang keluar dari toko berusaha memperlihatkan wajah gembira. Mereka diperintahkan bahagia dan bergembira sebagai ibu rumah tangga dan harus menyegarkan pekerja negara dengan makanan yang enak di malam hari.

Namun semua orang ini sangat cekatan menghindari kami sehingga tak seor­ang pun yang memotong jalan kami. Kalau ada orang, dalam jarak duapuluh langkah dari kami mereka sudah hilang. Mereka bergegas masuk ke dalam toko atau membelok ke pojokan. Banyak yang masuk ke rumah orang lain dan gelisah menunggu di balik pintu sampai kami menghilang.

Ketika menyeberang jalan, seorang tua berpapasan dengan kami. Dari tanda pengenalnya kutahu ia seorang guru. Terlambat baginya untuk menghindar. Sekarang ia harus memenuhi kewajibannya. Pertama-tama menyapa polisi sesuai peraturan (yaitu, menampar wajahnya sendiri tiga kali sebagai tanda penghi­naan serius), dan kemudian meludahi wajahku tiga kali sambil memaki: "Anjing pengkhianat." Ia melakukannya dengan baik. Namun hari terasa panas. Kerongkongannya kering karena hanya sedikit ludah yang mengenaiku. Dengan re­fleks dan melawan peraturan, kuhapus ludah dengan lengan baju. Polisi itu menendangku dari belakang dan menghajar tulang punggungku dengan tinjunya seraya berkata: "Tingkat Satu." Ini artinya hukuman ringan pertama yang boleh diambil seorang polisi.

Guru itu segera menyingkir. Sebaliknya, orang-orang yang lain sukses menghindari kami. Hanya seorang wanita yang pucat dan sedikit pirang dengan wajah terpaksa di samping tangsi cinta sebelum pesta malam tiba. Dengan tergesa-gesa ia menciumku dan aku pun tersenyum senang, sementara polisi itu bersikap seolah-olah tidak melihat apa-apa. Polisi wajib membiarkan kaum wanita bebas melepas kawannya yang dihukum berat. Karena dianggap memperbaiki moral kerja, maka mereka berada di luar hukum. Pengecualian ini dibenarkan filsuf negara Dr. Dr. Dr. Bleigoth di dalam Jurnal Filsafat resmi milik pemerintah yang merupakan tanda dimulainya liberalisasi. Aku memba­canya kemarin di majalah yang kutemukan di sebuah gudang pertanian dalam perjalanan ke ibu kota. Seorang siswa - mungkin anak si petani - memberi catatan-catatan kritis.

Beruntung kami sudah dekat kantor polisi ketika sirene berbunyi. Jalan-jalan akan dipenuhi ribuan orang yang harus menunjukan wajah setengah riang ("dianjurkan" untuk tidak menunjukan kegembiraan luar biasa setelah usai bekerja karena bekerja adalah beban. Tetapi kebahagiaan harus dimulai sebelum bekerja dengan lagu-lagu pujian). Ribuan orang ini harus meludahiku. Sirene ini sebenarnya ini sepuluh menit tanda sebelum ditutup, karena setiap orang harus mandi bersih selama sepuluh menit sesuai slogan kepala negara: Kebahagiaan dan Sabun Mandi.

Di pintu masuk markas polisi, sebuah bangunan gersang yang kokoh, dua penjaga menghadiahkanku "tindakan fisik". Dengan bayonet, mereka pukul pelipisku dengan keras dan mendaratkan popor senjatanya ke tulang selangka­ sesuai Pembukaan Undang-undang Nomor 1: "Semua polisi, kecuali petugas yang menangkap, harus memperlihatkan dirinya sebagai penguasa di depan tersangka (maksudnya tertangkap). Petugas penangkap boleh melakukan semua tindakan fisik yang diperlukan selama interogasi." Undang-undang Nomor 1 itu sendiri menyebutkan: "Semua polisi boleh menghukum seseorang. Ia harus menghukum setiap orang yang terbukti bersalah melakukan pelanggaran. Tidak ada yang kebal hukum, kecuali dibebaskan dari hukuman."

Sekarang kami melewati koridor panjang yang kosong dengan jendelanya yang besar. Sebuah pintu terbuka otomatis. Petugas yang berjaga segera mengumumkan kedatangan kami. Hari ini semua orang senang, ramah dan berpenampilan rapi, terlihat daricara menghabiskan sabun setiap hari sesuai anjuran. Karena itu datangnya seorang tersangka (tertangkap) adalah peristiwa besar.

Kami masuk ke ruangan yang nyaris kosong. Cuma ada meja dengan telepon dan dua kursi. Aku ditempatkan di tengah-tengah ruangan. Polisi itu mele­paskan helmetnya dan duduk.

Awalnya sunyi dan tidak terjadi apa-apa. Beginilah cara mereka dan ini bagian yang paling tidak menyenangkan. Kurasakan keringat mengalir di wajahku.  Aku merasa lapar dan lelah. Bahkan jejak kebahagiaan terakhirku sudah hilang karena aku tahu aku kalah.

Setelah beberapa saat, seorang lelaki pucat, kurus dan berseragam coklat penyidik masuk. Ia duduk tanpa mengucapkan sesuatu apapun dan menatapku:

"Jabatan."

"Orang biasa."

"Lahir?"

"1.1 satu," jawabku.

"Pekerjaan terakhir?"

"Terpidana."

Kedua polisi itu saling berpandangan.

"Kapan dan di mana dibebaskan?"

"Kemarin, Rutan 12, Sel 13."

"Dibebaskan di mana?"

"Di ibu kota."

"Surat-surat?"

Kuambil surat-surat pembebasanku dari dalam kantong dan menyerahkannya.

Surat-surat itu disatukan dengan kartu hijau yang di atasnya ia mencatat pernyataanku.

"Dakwaan?"

"Wajah bahagia."

Kedua polisi itu saling berpandangan lagi.

"Jelaskan!" perintah penyidik.

"Waktu itu wajah bahagiaku menarik perhatian polisi. Hari itu dinyatakan sebagai hari berkabung nasional untuk memperingati kematian kepala negara," ujarku.

"Lama hukuman?"

"Lima."

"Kelakuan?"

"Jelek."

"Alasannya?"

"Kurang inisiatif."

"Cukup."

Lalu  si penyidik berdiri dan berjalan ke arahku. Tinjunya tepat mengenai tiga  gigi depanku. Inilah tandanya aku dicap sebagai pemberontak, cap yang tidak pernah terbayangkan olehku. Kemudian petugas penyidik itu meninggalkan ruangan. Temannya yang besar dan berseragam coklat masuk: petugas interogator.

Mereka semua menghajarku. Petugas interogator, interogator senior, interogator kepala, hakim tingkat pertama dan hakim tingkat banding serta polisi melakukan kekerasan fisik seperti yang diamanatkan undang-undang. Aku divonis sepuluh tahun penjara karena wajah sedihku, sama seper­ti lima tahun lalu saat aku divonis karena wajah bahagiaku.

Aku akan berusaha tidak punya wajah lagi. Kalau berhasil, kulewatkan sepuluh tahun nanti dengan kebahagiaan dan sabun mandi.


Koran Tempo, 12 Mei 2013 

Judul asli: "My Melancholy Face". Dialihbahasakan oleh Riva Julianto dari dari buku The Realm of Fiction 74 Short Stories, edisi ketiga, James B. Hall dan Elizabeth C. Hall (penyunting). New York: Mcgraw-Hill Book Compa­ny, 1977, hal: 289-294.

Kisah Seorang Pandai

 Oleh: Bertolt Brecht



ALKISAH, hiduplah seorang anak lelaki yang pandai. Sangai pandai. Bahkan luar biasa pandai. Karena kepandaiannya ia dapat mendengar tanaman yang sedang tumbuh di kesunyian malam, dan bahkan kadal yang sedang batuk sekalipun. Ya, kepandaiannya masih banyak lagi. Semua orang mempercayainya, dan tentu saja yang paling percaya adalah dirinya sendiri. Mau tidak mau ia menjadi teladan bagi setiap orang. Ia sendiri juga menyadarinya. Syahdan, suatu ketika ia pun menjadi orang yang sangat pandai. Ia begitu sangat dihargai. Akan tetapi ia masih punya kepandaian lain yang ratusan.. bukan.. ribuan.. bukan.. ratusan ribu kali lebih terhormat. Oleh karenanya ia pun tidak pernah berpikir lamban seperti seekor keledai atau unta; yang menurutnya tidak mungkin terjadi sama sekali. Ya, tentu saja tidak mungkin! Ia berkata pada dirinya sendiri. Ia harus menyadari hal ini. Bukankah begitu?

Anak itu tumbuh dewasa, bertambah bijaksana dan baik. Keluarganya sungguh-sungguh memikirkan masa depannya dan apakah ada banyak orang sepandai anak ini?
Sementara itu saudara-saudara dan teman-temannya berembuk dan membicarakan persoalan besar sekali lagi: harus menjadi apa anak muda yang sangat pandai ini? Pertanyaan penting yang sangat mendesak ini juga menghantui dirinya. Ia bimbang antara menjadi seorang bangsawan sastrawan atau panglima bala tentara.

Kedua pekerjaan ini sama baiknya.

Seorang bangsawan sastrawan? Hmm, kalau ini setiap orang mudah melakukannya. Keluarganya juga tidak memungkirinya. Ia telah menulis sajak-sajak indah. Bakatnya jelas telah terbukti. Sajak indahnya yang berjudul “Cinta” adalah sebuah mahakarya klasik yang terindah. Salah satu baitnya berbunyi demikian:
Cinta yang indah penuh berkah
Dari seluruh hati yang terasa
Adalah naluri nan indah,
Mengalahkan segala derita
telah mendapatkan banyak pujian. Keistimewaan sajaknya yang lain telah ditunjukkannya, yaitu sajak serupa yang muncul di dalam karya terbarunya berjudul “Dangau”. Menjadi bangsawan sastrawan sudah dipertimbangkannya.

Yang kedua, menjadi panglima bala tentara. Juga tidak lazim.

Tentu saja di bawah kekuasaan Kekaisaran Perancis-Spanyol, pemuda pandai ini tidak bisa berbuat apa-apa. Mustahil! Cukup mudah baginya untuk menaklukkan mereka. Karena ia mudah menjalin persahabatan dengan Raja Portugis yang sedang berkuasa. Maka saat ia kembali ke Spanyol bersama mereka, ia pun bertitah sebagai seorang Kaisar; tentu saja setelah ia membunuh kaisarnya lebih dahulu. Sangat mudah! Bukankah begitu? Kepandaian militernya ia tunjukkan di usia sangat muda.

Menjadi panglima bala tentara tidaklah jelek!

Tangannya tampak menimbang-nimbang. Anak pandai ini sekarang terombang-ambing di antara dua pilihan pekerjaan ke sana ke mari. Dua pekerjaan yang sama-sama mempunyai kejelekan dan kebaikan masing-masing. Bangsawan sastrawan, sayangnya, harus dapat menulis sesuatu. Panglima bala tentara juga pertama-tama harus mencari seorang raja yang bodoh, yang nantinya bakal digantikannya.

Lama ia menimbang-nimbang.

Akhirnya ia memutuskan menjadi pegawai di sebuah toko. Dan ia pun melakukannya karena sekali ia memutuskan bahwa itu akan dilaksanakannya. Beruntung sekali ia kini berada di antara kaleng-kaleng ikan haring dan peti-peti berisi topi.

Idealnya sekarang adalah menjadi pengusaha. Tapi ia sudah lebih dahulu dikenal sebagai pengemis muda yang sosialis. Karena kini usianya menginjak lima belas tahun, ia pun mengalami suatu peristiwa. Lelaki muda yang pandai itu jatuh cinta. Gejala pertamanya adalah eros bunga mawar yang lapar menghinggapi penjaga toko alias bangsawan sastrawan sehingga membuatnya menulis sebuah sajak.. oh.. oh sajak apa itu? Sajaknya bagaikan sebuah wahyu. Panjangnya dua puluh bait dengan kalimat panjang-panjang. Tiap bait terdiri dari sepuluh baris, tiap baris terdiri dari dua belas kata. Sangat kolosal. Mahakarya luar biasa! Tapi itu adalah karya yang pertama. Untuk karya yang kedua ia bersumpah akan menulis sajak berjudul “Mata Hitam Nan Indah” untuk wanita itu. Ia pun bersumpah disaksikan cahaya lilin malam yang terdiam dan juga janggutnya yang panjang, yang sayangnya salah satunya tercabut tidak sengaja. Kemudian mulailah. Terlihat bangsawan sastrawan kita yang tercinta melakukan satu kesalahan kecil. Ia menjadi malu-malu. Semakin sering ia bertemu dengan calon istrinya, semakin ia khawatir menjadi jauh dari pergaulannya yang lain.

Bulan demi bulan berlalu. Tahun demi tahun. Dekade demi dekade. Abad demi abad. Ya.. sekarang aku jadi bertindak terlalu jauh sekali. Semua ini terjadi hanya dalam tempo dua bulan. Kemudian suatu hari saat hujan turun, ia melihat wanita itu sedang bergandengan tangan dengan lelaki lain. Bagaimana ia akan pulang malam ini ia tidak peduli lagi. Ia duduk di kamarnya yang kecil seorang diri. Dijauhi Tuhan dan manusia-manusia lainnya. Lalu ia pun menangis.

Pertanda buruk jika seorang lelaki sejati menangis. Tetapi kemudian ia menjadi kesal dengan janggutnya. Selanjutnya dicabutnya helai janggut terakhir di dagunya. Ia menjadi murung. Duduk seharian dengan pikiran kacau. Berbaring di balik peti ikan haring sambil melamun. Melamunkan sebuah persoalan. Persoalan yang tidak biasa. Pokok persoalannya adalah bagaimana mungkin seseorang yang sangat pandai berpikir lamban?

Lama ia duduk dan berpikir…

Karena waktu ia pun menjadi gila. Ia selalu bergumam: Aku tidak berpikir lamban. Kalau sampai hari ini belum mati juga, maka aku masih terus hidup…(*)


Koran Tempo, 18 Agustus 2013


Bertolt Brecht (1898-1956) adalah penyair, penulis naskah drama dan sutradara Jerman. Cerita pendek di atas diterjemahkan dari versi aslinya, “Die Geschicte von einem, der nie zu Spat Kam” oleh Riva Julianto.