Oleh: Riva Julianto
Alkisah
ada suatu larangan bagi warga dusun Empat Lima. Mereka tidak boleh masuk ke
dalam hutan perawan. Larangan itu adalah hukum adalah hukum adat yang sudah
diwariskan secara turun-temurun. Konon menurut cerita yang dikisahkan dari
generasi ke generasi, barangsiapa masuk ke dalamnya tidak akan mungkin kembali
lagi. Tidak akan bisa keluar lagi. Di dalamnya hidup binatang-binatang buas
yang setia menjaga keperawanan hutan. Mereka siap memangsa makhluk hidup yang
masuk ke dalamnya. Para warga dusun mempercayai bahwa di dalam hutan perawan
itulah roh orang yang mati bersemayam. Jika roh itu terganggu dan kemudian
marah, maka dusun mereka akan mendapat celaka dan malapetaka.
Pernah
suatu ketika seorang anak kecil tidak sengaja memasukkinya. Ia hilang begitu
saja. Lenyap seperti tertelan raksasa hitam. Beberapa hari kemudian dusun
mereka tertimpa musibah diserang sekawanan gajah. Beberapa rumah dan ladang
hancur diinjak-injak gajah. Mereka percaya gajah-gajah itu merusak dusun mereka
karena hutan perawan telah mereka nodai. Pernah pula ada seorang anak muda yang
ingin mencoba keberaniannya untuk masuk ke dalamnya. Ia tidak pernah kembali
sampai hari ini. Kerabat yang ditinggalkannya pun akhirnya meninggal semua.
Mereka mati dalam pasungan akibat menderita suatau penyakit misterius.
Demikianlah kisah yang melingkupi hutan perawan dan diwariskan turun-temurun di
dalam kehidupan warga dusun terpencil ini.
Hutan
perawan lebat dan gelap. Sinar matahari tidak bisa menembus kanopi dedaunan
pohon-pohon raksasa di dalamnya. Batang-batang pohon berusia ribuan tahun
besarnya hampir sebesar rumah mereka. Lolongan berbagai macam binatang siang
dan malam saling bergantian memecahkan keheningan. Untuk mencegah orang
memasukkinya, warga dusun akhirnya membuat pagar sebagai garis pemisah antara
hutan perawan dan dusun mereka.
Adalah
Pak Misyad orang yang sangat dihormati warga dusun Empat Lima. Semua petuahnya
membawa berkah bagi masyarakat dusunnya. Sebagai seorang tetua adat, semua
pendapatnya menjadi pendapat masyarakat. Kepadanyalah warga dusun bertanya dan
menyelesaikan masalah di antara mereka. Tidak ada masalah yang tidak pernah
selesai di tangan Pak Misyad. Ia orang yang sangat disegani dan bijaksana.
Dusun
Empat Lima terletak di pedalaman hutan perawan Kalimantan. Warga dusun tersebut
umumnya bekerja sebagai petani ala kadarnya. Menggarap tanah yang tidak
seberapa luasnya hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan menjual sisanya
ke oasar di hulu sungai. Mereka tidak pernah berusaha untuk menjadi kaya. Alam
menyediakan seluruh kebutuhan mereka. Rumah-rumah panggung yang mereka tempati
semuanya terbuat dari batang kayu dan atap rumbia.
Saat
ini pikiran Pak Misyad sedang galau. Sebagai tetua adat ia sudah sering
memecahkan persoalan di dusunnya. Akan tetapi ia sendiri merasa tidak bisa
berbuat apa-apa di hadapan hutan lebat yang sangat ditakuti dan dikeramatkan
setiap generasi dusunnya. Hampir setiap hari waktunya dihabiskan dengan berdiri
di tepi hutan lebat dan gelap yang telah dipagari. Ia berusaha melihat jauh ke
dalam hutan. Namun pandangannya hanya bisa melihat beberapa meter saja. Lebih
dari itu cuma kegelapan yang tampak.
Masalah
yang membuatnya galau adalah menghadapi generasi muda dusunnya. Jika mereka
bertanya tentang hutan perawan, jawabannya tetap sama: cerita-cerita warisan.
Cerita yang membuatnya gundah-gulana. Jika cerita itu terus-menerus diwariskan
ke setiap generasi, ia takut kalau tardisi ini akan membuat anak-anak cucu
mereka manjadi frustasi, lalu pindah ke kota. Kehidupan di kota memberi mereka
kebebasan bertanya seerpti yang diajarkan di sekolah-sekolah di masa kini.
Namun
mencari tahu apa yang ada di dalam hutan perawan sama saja menghancurkan
dusunnyaperlahan-lahan. Sementara ia sendiri sebagai panutan warganya tidak
bisa melawan dan mengubah hukum adat. Bila hutan perawan tidak perawan lagi,
maka tidak ada lagi yang bisa dihargai dan dibanggakan dusunnya. Pada akhirnya
dirinya sendiri juga tidak akan dihargai dan dihormati lagi warga dusunnya. Ia
tidak ingin hal itu terjadi pada dirinya. Hati Pak Misyad menjadi semakin
miris.
Suatu
hari Pak Misyad seperti biasanya memandangi hutan perawan dengan rasa takjub
dan keingintahuan. Ia berdiri di dekat pagar yang membatasi hutan perawan dan
dusunnya. Ia merasa ingin meloncati pagar itu dan kemudian masuk ke dalam hutan
perawan. Akan tetapi hal itu cuma angan-angannya saja.
Sekonyong-konyong
kesadarannya hilang. Ia merasakan bisa mendengar pembicaraan pohon dan
binatang. Terdengar suara jeritan kesakitan, teriakan kematian, tangisan
kesedihan, makian dan juga umpatan kehidupan dari balik hutan. Ia menjadi takut
setengah mati. Ia pun segera berlari sekencang-kencangnya. Sebuah suara yang
memekakkan telinga menyuruhnya kembali.
“Hei
Misyad, kenapa kau berlari? Aku tidak akan memangsamu. Kembalilah,” ujar suara
yang menggema di telinganya.
Misyad
menghentikan langkahnya. Kemudia ia berbalik dan memandang ke dalam hutan
perawan yang gelap itu.
“Siapa
kau? Kenapa tidak kau tampakkan wujudmu?” tanya Misyad ketakutan.
“Aku
di sini. Apa kau tidak bisa melihatku?” tanya suara itu.
Pak
Misyad mencari-cari sumber suara itu di sekelilingnya. Tidak ada seorang pun di
sana. “Di mana kau?” tanya Pak Misyad putus asa karena tidak menemukan suara
yang dicarinya.
“Aku
di sini. Tidak jauh darimu,” suara itu begitu jelas terdengar di kupingnya.
Pasti tidak jauh dari tempatnya berdiri, pikir Pak Misyad. Ia menduga suara itu
berasal dari hutan perawan. Ia pun melangkah maju menuju hutan perawan. Pagar
pembatas di panjatnya.
“Katakan
siapa dan di mana kau berada?” tanya Pak Misyad dengan suara lantang.
Aku
di sini. Tidak jauh darimu. Aku bahkan tahu apa yang ada di dalam pikiranmu,”
kata suara itu lagi dan bertambah nyaring dan jelas.
Pak
Misyad seakan lupa larangan adat. Selangkah lagi hutan perawan dimasukkinya.
Suara itu membuat ia melupakan segalanya. Ia ingin segara mencari suara tak
beraga yang telah menggodanya.
Ia
menghentikan langkahnya. “Katakan di mana kau berada. Jika tidak aku akan
pulang saja,” ancam Pak Misyad.
“Kau
tidak ingin mengetahui siapa aku sebenarnya?” tanya suara yang entah siapa
orangnya.
“Sebagai
tetua adat aku lebih baik mati dari pada melanggar aturan adat,” jawab Pak
Misyad tegas.
“Masuklah
dahulu. Setelah itu baru kau bisa melihat wujudku,” ujar suara itu menggodanya.
“Tidak
mau,” ujar Misyad sambil membalikkan badannya bergegas pergi meninggalkan hutan
perawan.
Orkestra
suara jeritan, teriakan, tangisan, makian dan umpatan kehidupan dimulai lagi.
Orkestra suara-suara itu mengikutinya lagi ke mana pun ia pergi dan selalu
terngiang di telinganya ketika tidur. Akhirnya Pak Misyad tidak tahan mendengar
suara yang membuat dirinya tidak bisa tenang. Keesokan harinya ia kembali ke
tepi hutan perawan.
“Hentikan
suaramu. Aku tidak tahan,” pinta Pak Misyad kepada suara entah siapa itu.
“Nah,
kau merasakan sendiri penderitaanmu,” ujar suara itu lagi.”Sekarang masuklah
dan lihatlah diriku.”
Pak
Misyad terdiam sesaat. Menarik nafas panjang untuk menghimpun semua
keberaniannya. Ia membayangkan malapetaka dan celaka yang akan menimpa
dusunnya. Akan tetapi ia juga merisaukan gangguan suara-suara yang menyayat
hatinya. Ia takut bila suara-suara itu menggejolakkan emosinya sehingga dapat
membuatnya mudah marah dan tidak bijaksana. Jika hal itu terjadi, maka ia pun
akan dicela sebagai orang yang patut diteladani warga dusunnya.
“Baik,
aku akan masuk. Tapi jangan kau coba-coba bohongi aku,” ujar Pak Misyad dengan
nada mengancam.
Ia
segera melangkah masuk ke dalam hutan perawan. Yang didapatinya cuma kegelapan
dan gemerisik dedaunan tertiup angin.
“Kau
bodoh Misyad,” suara itu muncul di tengah kebingungan Pak Misyad. “Sejak dahulu
aku selalu bersamamu. Percuma saja kau mencari aku. Aku ada di lubuk hatimu.
Tetapi kau selalu elakkan aku. Karena kau telah menodaiku, maka celakalah
hidupmu.”
No comments:
Post a Comment