Tuesday, March 12, 2013

Hutan Perawan

Oleh:  Riva Julianto
 


Alkisah ada suatu larangan bagi warga dusun Empat Lima. Mereka tidak boleh masuk ke dalam hutan perawan. Larangan itu adalah hukum adalah hukum adat yang sudah diwariskan secara turun-temurun. Konon menurut cerita yang dikisahkan dari generasi ke generasi, barangsiapa masuk ke dalamnya tidak akan mungkin kembali lagi. Tidak akan bisa keluar lagi. Di dalamnya hidup binatang-binatang buas yang setia menjaga keperawanan hutan. Mereka siap memangsa makhluk hidup yang masuk ke dalamnya. Para warga dusun mempercayai bahwa di dalam hutan perawan itulah roh orang yang mati bersemayam. Jika roh itu terganggu dan kemudian marah, maka dusun mereka akan mendapat celaka dan malapetaka.
Pernah suatu ketika seorang anak kecil tidak sengaja memasukkinya. Ia hilang begitu saja. Lenyap seperti tertelan raksasa hitam. Beberapa hari kemudian dusun mereka tertimpa musibah diserang sekawanan gajah. Beberapa rumah dan ladang hancur diinjak-injak gajah. Mereka percaya gajah-gajah itu merusak dusun mereka karena hutan perawan telah mereka nodai. Pernah pula ada seorang anak muda yang ingin mencoba keberaniannya untuk masuk ke dalamnya. Ia tidak pernah kembali sampai hari ini. Kerabat yang ditinggalkannya pun akhirnya meninggal semua. Mereka mati dalam pasungan akibat menderita suatau penyakit misterius. Demikianlah kisah yang melingkupi hutan perawan dan diwariskan turun-temurun di dalam kehidupan warga dusun terpencil ini.
Hutan perawan lebat dan gelap. Sinar matahari tidak bisa menembus kanopi dedaunan pohon-pohon raksasa di dalamnya. Batang-batang pohon berusia ribuan tahun besarnya hampir sebesar rumah mereka. Lolongan berbagai macam binatang siang dan malam saling bergantian memecahkan keheningan. Untuk mencegah orang memasukkinya, warga dusun akhirnya membuat pagar sebagai garis pemisah antara hutan perawan dan dusun mereka.
Adalah Pak Misyad orang yang sangat dihormati warga dusun Empat Lima. Semua petuahnya membawa berkah bagi masyarakat dusunnya. Sebagai seorang tetua adat, semua pendapatnya menjadi pendapat masyarakat. Kepadanyalah warga dusun bertanya dan menyelesaikan masalah di antara mereka. Tidak ada masalah yang tidak pernah selesai di tangan Pak Misyad. Ia orang yang sangat disegani dan bijaksana.
Dusun Empat Lima terletak di pedalaman hutan perawan Kalimantan. Warga dusun tersebut umumnya bekerja sebagai petani ala kadarnya. Menggarap tanah yang tidak seberapa luasnya hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan menjual sisanya ke oasar di hulu sungai. Mereka tidak pernah berusaha untuk menjadi kaya. Alam menyediakan seluruh kebutuhan mereka. Rumah-rumah panggung yang mereka tempati semuanya terbuat dari batang kayu dan atap rumbia.
Saat ini pikiran Pak Misyad sedang galau. Sebagai tetua adat ia sudah sering memecahkan persoalan di dusunnya. Akan tetapi ia sendiri merasa tidak bisa berbuat apa-apa di hadapan hutan lebat yang sangat ditakuti dan dikeramatkan setiap generasi dusunnya. Hampir setiap hari waktunya dihabiskan dengan berdiri di tepi hutan lebat dan gelap yang telah dipagari. Ia berusaha melihat jauh ke dalam hutan. Namun pandangannya hanya bisa melihat beberapa meter saja. Lebih dari itu cuma kegelapan yang tampak.
Masalah yang membuatnya galau adalah menghadapi generasi muda dusunnya. Jika mereka bertanya tentang hutan perawan, jawabannya tetap sama: cerita-cerita warisan. Cerita yang membuatnya gundah-gulana. Jika cerita itu terus-menerus diwariskan ke setiap generasi, ia takut kalau tardisi ini akan membuat anak-anak cucu mereka manjadi frustasi, lalu pindah ke kota. Kehidupan di kota memberi mereka kebebasan bertanya seerpti yang diajarkan di sekolah-sekolah di masa kini.
Namun mencari tahu apa yang ada di dalam hutan perawan sama saja menghancurkan dusunnyaperlahan-lahan. Sementara ia sendiri sebagai panutan warganya tidak bisa melawan dan mengubah hukum adat. Bila hutan perawan tidak perawan lagi, maka tidak ada lagi yang bisa dihargai dan dibanggakan dusunnya. Pada akhirnya dirinya sendiri juga tidak akan dihargai dan dihormati lagi warga dusunnya. Ia tidak ingin hal itu terjadi pada dirinya. Hati Pak Misyad menjadi semakin miris.
Suatu hari Pak Misyad seperti biasanya memandangi hutan perawan dengan rasa takjub dan keingintahuan. Ia berdiri di dekat pagar yang membatasi hutan perawan dan dusunnya. Ia merasa ingin meloncati pagar itu dan kemudian masuk ke dalam hutan perawan. Akan tetapi hal itu cuma angan-angannya saja.
Sekonyong-konyong kesadarannya hilang. Ia merasakan bisa mendengar pembicaraan pohon dan binatang. Terdengar suara jeritan kesakitan, teriakan kematian, tangisan kesedihan, makian dan juga umpatan kehidupan dari balik hutan. Ia menjadi takut setengah mati. Ia pun segera berlari sekencang-kencangnya. Sebuah suara yang memekakkan telinga menyuruhnya kembali.
“Hei Misyad, kenapa kau berlari? Aku tidak akan memangsamu. Kembalilah,” ujar suara yang menggema di telinganya.
Misyad menghentikan langkahnya. Kemudia ia berbalik dan memandang ke dalam hutan perawan yang gelap itu.
“Siapa kau? Kenapa tidak kau tampakkan wujudmu?” tanya Misyad ketakutan.
“Aku di sini. Apa kau tidak bisa melihatku?” tanya suara itu.
Pak Misyad mencari-cari sumber suara itu di sekelilingnya. Tidak ada seorang pun di sana. “Di mana kau?” tanya Pak Misyad putus asa karena tidak menemukan suara yang dicarinya.
“Aku di sini. Tidak jauh darimu,” suara itu begitu jelas terdengar di kupingnya. Pasti tidak jauh dari tempatnya berdiri, pikir Pak Misyad. Ia menduga suara itu berasal dari hutan perawan. Ia pun melangkah maju menuju hutan perawan. Pagar pembatas di panjatnya.
“Katakan siapa dan di mana kau berada?” tanya Pak Misyad dengan suara lantang.
Aku di sini. Tidak jauh darimu. Aku bahkan tahu apa yang ada di dalam pikiranmu,” kata suara itu lagi dan bertambah nyaring dan jelas.
Pak Misyad seakan lupa larangan adat. Selangkah lagi hutan perawan dimasukkinya. Suara itu membuat ia melupakan segalanya. Ia ingin segara mencari suara tak beraga yang telah menggodanya.
Ia menghentikan langkahnya. “Katakan di mana kau berada. Jika tidak aku akan pulang saja,” ancam Pak Misyad.
“Kau tidak ingin mengetahui siapa aku sebenarnya?” tanya suara yang entah siapa orangnya.
“Sebagai tetua adat aku lebih baik mati dari pada melanggar aturan adat,” jawab Pak Misyad tegas.
“Masuklah dahulu. Setelah itu baru kau bisa melihat wujudku,” ujar suara itu menggodanya.
“Tidak mau,” ujar Misyad sambil membalikkan badannya bergegas pergi meninggalkan hutan perawan.
Orkestra suara jeritan, teriakan, tangisan, makian dan umpatan kehidupan dimulai lagi. Orkestra suara-suara itu mengikutinya lagi ke mana pun ia pergi dan selalu terngiang di telinganya ketika tidur. Akhirnya Pak Misyad tidak tahan mendengar suara yang membuat dirinya tidak bisa tenang. Keesokan harinya ia kembali ke tepi hutan perawan.
“Hentikan suaramu. Aku tidak tahan,” pinta Pak Misyad kepada suara entah siapa itu.
“Nah, kau merasakan sendiri penderitaanmu,” ujar suara itu lagi.”Sekarang masuklah dan lihatlah diriku.”
Pak Misyad terdiam sesaat. Menarik nafas panjang untuk menghimpun semua keberaniannya. Ia membayangkan malapetaka dan celaka yang akan menimpa dusunnya. Akan tetapi ia juga merisaukan gangguan suara-suara yang menyayat hatinya. Ia takut bila suara-suara itu menggejolakkan emosinya sehingga dapat membuatnya mudah marah dan tidak bijaksana. Jika hal itu terjadi, maka ia pun akan dicela sebagai orang yang patut diteladani warga dusunnya.
“Baik, aku akan masuk. Tapi jangan kau coba-coba bohongi aku,” ujar Pak Misyad dengan nada mengancam.
Ia segera melangkah masuk ke dalam hutan perawan. Yang didapatinya cuma kegelapan dan gemerisik dedaunan tertiup angin.
“Kau bodoh Misyad,” suara itu muncul di tengah kebingungan Pak Misyad. “Sejak dahulu aku selalu bersamamu. Percuma saja kau mencari aku. Aku ada di lubuk hatimu. Tetapi kau selalu elakkan aku. Karena kau telah menodaiku, maka celakalah hidupmu.”


No comments:

Post a Comment